Sign In

Career Guide: https://lnkd.in/gad7jnK


MENILIK SISTEM PENSIUN INDONESIA

DAN PELUANG UNTUK TRANSFORMASI BERKELANJUTAN*)

"It's a really hard problem –the hardest problem I've considered—because it's multidimensional"

Kalimat tersebut diucapkan oleh peraih hadiah Nobel ekonomi, William F. Sharpe, saat menyampaikan perhatiannya terhadap permasalahan pensiun dalam forum konferensi tahunan CFA Institute ke 67 pada tahun 2014.

Sebagai organisasi profesi investasi, CFA Institute yang memiliki misi "to lead the investment profession globally by promoting the highest standards of ethics, education, and professional excellence for the ultimate benefit of society" menyadari bahwa industri investasi sangat berperan dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan laporan World Economic Forum 2017 yang menyebutkan bahwa sistem pensiun yang sehat berkontribusi positif dalam membangun ekonomi yang sejahtera dan stabil, CFA Institute telah menaruh perhatian dengan mempublikasi artikel-artikel terkait pensiun dalam Financial Analyst Journal serta melalui yayasan risetnya sejak 70 tahun yang lalu, serta melaunching inisiatif leadership yang dinamai "The Future of Finance".

Dalam 2015 Global Market Sentiment Survey, para member CFA Institute ditanya tentang risiko  yang paling disepelekan namun dapat berpengaruh negatif terhadap pasar modal global dalam 5 tahun ke depan. Hasilnya 20% responden memilih dampak dari tren populasi yang menua, sedangkan 14% memilih defisit pendanaan dana pensiun serta tingkat tabungan pensiun yang rendah. Selain itu juga dilakukan riset terhadap industry trust, yang menunjukkan bahwa hampir separuh pengelola dana pensiun dengan program manfaat pasti (defined benefit) mengantisipasi harus akan mengurangi manfaat pensiun dalam sepuluh tahun ke depan namun, sebaliknya sekitar 70% peserta yakin bahwa janji manfaat pensiun dapat dibayar sesuai janji. Hal ini merupakan deferred trust deficit yang harus menjadi perhatian, terlebih dengan adanya tambahan tantangan antara lain sebagai berikut:

  • Populasi yang menua akibat menurunnya tingkat kelahiran serta meningkatnya usia harapan hidup.
  • Trend suku bunga yang semakin menurun, yang memunculkan pertanyaan yang signifikan mengenai strategi investasi dana pensiun yang tepat, dan di sisi lain berdampak terhadap kenaikan kewajiban sehingga menurunkan Rasio Kecukupan Dana.
  • Dampak pandemi COVID-19.
  • Meningkatnya utang negara secara signifikan untuk program subsidi yang di masa depan dapat berpotensi mempengaruhi kemampuan untuk membayar manfaat pensiun yang tidak didanakan dan untuk menyediakan program proteksi sosial.
  • Kurangnya cakupan dan tabungan pensiun bagi para pekerja, baik akibat pasar tenaga kerja informal maupun meningkatnya "gig employment" secara signifikan yang meningkatkan employee turnover dari satu pemberi kerja ke pemberi kerja lain.

2020 Mercer CFA Institute Global Pensiun Index

Sebagai salah satu wujud komitmennya, CFA Institute juga mensponsori 2020 Mercer CFA Institute Global Pension Index yang telah dirilis pada bulan Oktober tahun 2020 lalu, berkolaborasi dengan Mercer dan Monash Centre for Financial Studies. Laporan yang merupakan rilis kedua belas ini mensurvei dan merating sistem pensiun dari 39 negara yang mencakup sekitar 2/3 populasi dunia berdasarkan tiga sub indeks yaitu  kecukupan, keberlanjutan dan integritas, serta merekomendasikan upaya untuk perbaikan di masing-masing sistem.  

Memang tidak mudah untuk membuat rating ini karena keterbatasan data serta assessment terhadap implementasi dari aturan yang ada, sehingga laporan ini mengandalkan data dan informasi yang telah dipublikasi serta aturan yang ada, terlepas dari efektivitas dan disiplin dalam implementasinya. Namun kendala tersebut tidak menghalangi upaya untuk menyajikan pelajaran, pengalaman atau gagasan yang bermanfaat bagi pengembangan dan reformasi sistem pensiun.

Dalam publikasi ini disebutkan bahwa tidak ada sistem pensiun yang sempurna yang dapat diterapkan secara universal, namun terdapat beberapa tujuan serupa yang dapat dirujuk untuk mencapai hasil yang lebih baik, sebagai berikut :

  1. Aspek kecukupan
    • Terdapat minimal jumlah manfaat pensiun bagi rakyat miskin yang mencerminkan persentase yang wajar terhadap rata-rata penghasilan masyarakat.
    • Perbandingan antara penghasilan di masa pensiun dengan masa bekerja bagi median pekerja penuh waktu setidaknya sebesar 70%.
    • Setidaknya 60% dari akumulasi tabungan pensiun tidak diambil secara sekaligus.
  2. Aspek keberlanjutan
    • Setidaknya 80% dari populasi pekerja menjadi peserta dana pensiun sukarela.
    • Aset dana pensiun saat ini lebih besar dari 100% GDP sehingga dapat mendanai kewajiban pensiun di masa mendatang. 
    • Angka partisipasi kerja bagi penduduk berusia 55 sampai dengan 64 tahun setidaknya sebesar 80%.
  3. Aspek integritas
    • Terdapat regulator yang kuat dan prudent yang mengawasi dana pensiun.
    • Terdapat komunikasi secara berkala kepada peserta mencakup provisi personal statements, proyeksi manfaat pensiun yang akan diterima, serta laporan tahunan.
    • Aturan pendanaan yang jelas baik pada dana pensiun dengan program manfaat pasti maupun iuran pasti.

Disebutkan juga bahwa untuk meningkatkan aspek kecukupan dan keberlanjutan dari sistem pensiun di seluruh dunia, diperlukan reformasi secara global antara lain dalam hal-hal sebagai berikut:

  • Meningkatkan cakupan pekerja dan pekerja mandiri dalam dana pensiun sukarela.
  • Memperpanjang usia pensiun.
  • Mempromosikan tingkat partisipasi kerja pada populasi dengan usia yang lebih tua.
  • Mendorong tingkat tabungan pribadi yang lebih tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada dana pensiun wajib.
  • Mengurangi tingkat pengambilan tabungan pensiun sebelum usia pensiun.
  • Memperkenalkan ukuran untuk mengurangi gap antar gender.
  • Meningkatkan tata kelola dana pensiun dan memperkenalkan transparansi yang lebih baik untuk meningkatkan kepercayaan peserta dana pensiun.

Ideal Retirement System

Berbagai model desain sistem pensiun telah diusulkan dalam berbagai literatur, namun secara umum masih terdapat kekurangan dalam hal guideline praktik terbaik. Pada tahun 2015, CFA Institute bekerja sama dengan Mercer mempublikasikan laporan berjudul Ideal Retirement System yang merupakan  kumpulan prinsip desain pensiun yang dikembangkan berdasarkan rekomendasi dari Future of Finance Advisory Council CFA Institute yang beranggotakan tokoh-tokoh industri finansial dari seluruh dunia. Publikasi ini diharapkan dapat menjadi basis debat dan diskusi awal bagi pengembangan model yang lebih baik dan implementatif.

Sepuluh prinsip Ideal Retirement System dilengkapi dengan question checklist untuk mempermudah diagnosis  dan upaya untuk mengurangi kesenjangan terhadap prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Pemerintah harus menetapkan tujuan yang jelas untuk seluruh sistem pensiun, termasuk peran dari masing-masing pilar pensiun, dan mengatur penyediaan penghasilan minimum untuk pengentasan kemiskinan bagi populasi yang menua.

    1. Pilar mana saja yang sudah ada? Pilar pensiun idealnya terdiri dari :
      • Pilar 0, dana pensiun wajib yang memberikan proteksi minimal
      • Pilar 1, dana pensiun wajib yang dikaitkan dengan pendapatan masa kerja
      • Pilar 2, dana pensiun swasta yang bersifat wajib dan fully funded 
      • Pilar 3, dana pensiun swasta yang bersifat sukarela dan fully funded
      • Pilar 4, dukungan finansial maupun non finansial yang berada di luar sistem pensiun
    2. Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dari masing-masing pilar?
    3. Berapa persen dari populasi yang tercakup dalam masing-masing pilar tersebut? 
    4. Siapa yang harus mengelola masing-masing pilar tersebut?
    5. Dapatkah masing-masing pilar tersebut dikelola dan dioperasikan secara efektif?
    6. Bagaimana tingkat pendanaan dari dana pensiun yang disponsori pemerintah?
    7. Bagaimana komitmen pemerintah terhadap reformasi dan upaya untuk menjalankan sistem yang ada?
    8. Apakah terdapat insentif perpajakan untuk mendorong tabungan pensiun secara sukarela?
    9. Apakah terdapat peluang diversifikasi untuk investasi dana pensiun?
    10. Apakah tabungan pensiun bersifat wajib atau sukarela?

2.       Tingkat pendanaan minimum harus diatur dalam sistem pensiun untuk semua pekerja yang berasal dari kontribusi pengusaha, karyawan, maupun wiraswasta. Ini berarti setiap pekerja akan memiliki akun pensiun untuk masa purna bakti mereka.

    1. Berapa jumlah penduduk yang sudah memiliki akun tabungan pensiun?
    2. Berapa jumlah penduduk yang tercakup dalam dana pensiun dengan program manfaat pasti?
    3. Untuk program iuran pasti, berapa rata-rata jumlah iurannya? Bagaimana breakdownnya berdasarkan metrics sosio ekonomi?
    4. Berapa persen penduduk yang berstatus pegawai versus  pekerja mandiri?
    5. Berapa persen rata-rata iuran dana pensiun dibanding pendapatan ?
    6. Berapa rata-rata jumlah iuran peserta?
    7. Apakah peserta akan menaikkan iuran pensiunnya apabila perusahaan menawarkan kenaikan subsidi iuran pensiun secara proporsional?
    8. Berapa rata-rata pendapatan per pegawai?
    9. Berapa rata-rata iuran per grup usia?
    10. Berapa persen pegawai aktif mencapai iuran yang maksimal?
    11. Berapa level iuran dari kaum disabled/parental/earned income (dibanding level iuran yang regular)?
    12. Apa dampak pengurangan biaya dari waktu ke waktu? 

3.       Terdapat default arrangement yang murah dan menarik, baik sebelum dan sesudah pensiun, bagi individu yang tidak ingin membuat keputusan atas perencanaan pensiunnya.

    1. Apakah tersedia default arrangement bagi individu yang tidak ingin membuat keputusan sendiri?
    2. Apabila tersedia, apa saja tipenya : Iuran? Alokasi asset?
    3. Bagaimana efektivitas biaya dan tingkat partisipasi dari default arrangement tersebut?
    4. Apakah tersedia pilihan investasi yang memadai bagi default arrangement?
    5. Haruskah tetap diwajibkan untuk mengikuti program pensiun yang wajib apabila sudah memiliki program pensiun sukarela (opt in)?
    6. Bagaimana level pengetahuan tentang investasi?
    7. Berapa usia pensiun rata-rata, apakah terlalu muda atau tua?
    8. Apakah default arrangement menggunakan skema fully funded atau pay as you go (tergantung dari iuran dari generasi selanjutnya)?

4.       Biaya administrasi dan investasi secara keseluruhan dalam setiap pengaturan pensiun harus diungkapkan dengan kompetisi untuk mendorong biaya yang wajar.

    1. Bagaimana biaya diungkapkan?
    2. Bagaimana biaya dihitung? Bagaimana informasi dikomunikasikan kepada peserta?
    3. Bagaimana pengaturan biaya individu dan biaya rata-rata?
    4. Berapa jumlah provider, apakah memadai?
    5. Seberapa fleksible peserta memilih manajer?
    6. Apakah terdapat pengetahuan terhadap pengaturan biaya serta dampaknya?
    7. Bagaimana biaya atas trading dan implementasi dari perubahan alokasi asset?

5.       Sistem pensiun harus memiliki beberapa fleksibilitas mengingat setiap individu memiliki kondisi keuangan yang berbeda-beda. Fleksibilitas ini mencakup pengakuan bahwa pensiun dapat terjadi pada berbagai usia dan cara yang berbeda-beda.

    1. Apakah terdapat opsi untuk menunda waktu pensiun?
    2. Apakah terdapat penalti untuk pensiun dini (untuk kelompok usia yang berbeda)?
    3. Apakah batas iuran dihitung per tahun?
    4. Dapatkah peserta mengiur dalam masa disability dan melakukan penarikan jika mengalami disabilitas?
    5. Apakah terdapat peluang untuk bekerja secara remote apabila terdapat perubahan dalam kemampuan untuk melakukan commuting?
    6. Apakah terdapat peluang untuk bekerja paruh waktu setelah memasuki masa pensiun?
    7. Berapa banyak yang bekerja pada masa purna bakti dan berapa rata-rata pendapatannya?

6.       Manfaat yang diberikan dari sistem pensiun harus memiliki fokus pada pendapatan namun tetap memberikan opsi penarikan sebagian dana di awal ketika memasuki masa pensiun untuk keperluan tertentu tanpa membahayakan kesinambungan pendapatan.

    1. Apakah terdapat penalti bagi penarikan lebih awal atas tabungan pensiun?
    2. Apa batasan yang ada untuk melakukan penarikan lebih awal?
    3. Berapa persen dana yang ditarik lebih awal?
    4. Apa batasan bagi dana yang telah ditarik lebih awal?
    5. Berapa yang meminjam dari tabungan?

7.       Iuran pensiun yang telah dibayarkan harus memiliki immediate vesting dan portabilitas pada tingkat tertentu. Prinsip ini memastikan bahwa manfaat pensiun yang diterima peserta mencerminkan keseluruhan masa kerja yang telah dijalani, dan peserta tidak dirugikan karena berganti-ganti pekerjaan.

    1. Berapa rata-rata periode vesting?
    2. Berapa manfaat yang hilang akibat perpindahan pekerjaan sebelum masa vesting?
    3. Apa saja perbedaan-perbedaan dalam rejim vesting yang ada?

8.       Pemerintah harus memberikan insentif perpajakan bagi sistem pensiun sehingga mendorong perilaku masyarakat untuk menyisihkan penghasilan untuk masa pensiun secara sukarela.

    1. Apakah terdapat perlakuan pajak yang fleksibel bagi akun-akun yang berbeda?
    2. Apakah sistemnya didanakan atau pay as you go?
    3. Berapa total biaya pajak bagi dana pensiun?
    4. Berapa persen total sistem mengandalkan iuran dari generasi yang lebih muda?
    5. Berapa persen dari iuran yang tergantung pada perlakuan pajak yang menguntungkan?
    6. Apakah aturan pajak memotivasi tabungan pensiun?

9.       Tata kelola dana pensiun harus independen dari kontrol pemerintah dan pemberi kerja,untuk memastikan kepentingan terbaik para peserta dana pensiun.

    1. Apa standar fidusiari untuk dapat mengelola dana pensiun?
    2. Bagaiman level trust terhadap system pensiun yang dikelola pemerintah?
    3. Apakah pembayaran iuran pensiun telah mempertimbangkan aspek pajak atau manfaat yang akan diterima pekerja?
    4. Apakah terdapat pemisahan kewajiban fidusia yang jelas antara  pengelola dan penerima manfaat dana pensiun? 
    5. Bagaimana dana pensiun berkomunikasi dengan pesertanya, apakah membangun trust dan keyakinan?
    6. Bagaimana level tranparansi dari dana pensiun?
    7. Berapa level garansi dari dana pensiun?
    8. Apakah dana pensiun dipersyaratkan untuk fully funded?

10.   Sistem pensiun harus tunduk pada peraturan yang berlaku antara lain yang mengatur aspek kehati-hatian, persyaratan komunikasi dan perlindungan untuk peserta dana pensiun.

    1. Bagaimana lingkungan pengaturan saat ini?
    2. Siapa yang bertanggung jawab untuk mengatur masing-masing pilar pensiun dan investasi yang dipilih?
    3. Berapa jumlah komplain dan tindakan/hukuman?
    4. Apa yang menjadi sebab tindakan regulatori?

Sebagaimana catatan editor, setiap negara berada pada tahap yang berbeda serta menghadapi sejarah serta dinamika budaya terkait populasi yang berbeda pula. Bagi sebagian pembaca prinsip-prinsip ini sudah terdengar sangat familiar namun sebagian pembaca lainnya dapat menganggap sebagai kontroversial. Laporan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), tahun 2019 juga menyebutkan bahwa "rejim pensiun sangat beragam dan kerap melibatkan program yang berbeda beda". Namun demikian publikasi ini dapat menjadi stimulasi bagi debat yang sehat dan produktif sebagai upaya untuk membawa kita lebih dekat kepada solusi yang memberikan manfaat untuk masyarakat.

Sistem Pensiun di Indonesia

Dalam publikasi 2020 Mercer CFA Institute Global Pension Index tahun ini, Indonesia berada di peringkat keempat di Asia serta peringkat ke-30 dari 39 negara yang disurvei, masih lebih tinggi dibandingkan Jepang, China, India, Mexico, Filipina, Turki, Argentina, dan Thailand. Indonesia berada di kategori C dan sejajar dengan Korea Selatan, Itali dan Spanyol. Kategori C ini berarti telah memiliki sistem pensiun dengan beberapa fitur yang bagus, namun juga memiliki risiko dan/atau kekurangan besar yang harus diatasi.

Di tahun ini Indonesia mendapatkan skor sebesar 51,4 dengan skor tertinggi untuk sub index integritas (68,7), diikuti oleh sub index kecukupan (45,7) dan sub index keberlanjutan (45,6). Skor ini turun dibanding tahun lalu sebesar 52,2 karena turunnya net replacement rate (perbandingan pendapatan bersih saat pensiun dengan pendapatan bersih sebelum pensiun) yang dipublikasikan oleh OECD serta penambahan usia harapan hidup yang meningkatkan longevity risk bagi system pensiun.

Sedangkan pada tahun 2018 skor Indonesia berada di level 53,1, di tahun 2017 di level 49,9 di tahun 2016 di posisi 48,3 dan tahun sebelumnya lagi di level 48,2. Secara historis Indonesia telah berhasil melakukan perubahan besar dalam sistem pensiun lewat regulasi BPJS di 2015, naik ke level C di mana sebelumnya masih berada di level D.

Dalam report tersebut disebutkan bahwa sistem pensiun di Indonesia dapat ditingkatkan antara lain

  • Support pendapatan minimal bagi masyarakat miskin yang sudah tua.
  • Memperluas jangkauan kepesertaan pensiun bagi karyawan dan pekerja mandiri sehingga dapat meningkatkan level tabungan serta asset pensiun.
  • Meningkatkan regulasi bagi sistem pensiun sukarela.
  • Meningkatkan peraturan komunikasi kepada peserta dana pensiun.
  • Memperpanjang usia pensiun ,mengingat terdapat trend kenaikan usia harapan hidup.

Disarikan dari berbagai sumber, beberapa peluang peningkatan juga dapat dilakukan melalui upaya sebagai berikut :

  • Memperbanyak dukungan dan perubahan kebijakan untuk mendorong kontribusi pensiun swasta serta meningkatkan fleksibilitas agar pekerja tidak dirugikan apabila berpindah pekerjaan.
  • Mengurangi kebocoran tabungan pensiun sebelum masa pensiun antara lain dengan membatasi akses untuk mencairkan dana BPJS dan DPLK.
  • Meningkatkan tata kelola dan transparansi untuk meningkatkan kepercayaan peserta dan masyarakat.
  • Melakukan gerakan financial literacy agar masing-masing individu dapat melakukan perencanaan pensiun secara proaktif dan customized, terlebih dengan adanya trend pergeseran dari program pensiun manfaat pasti ke iuran pasti yang tidak dapat memberikan kepastian hasil investasi,
  • Memperluas pasar DPLK dengan mengijinkan asset management dan sekuritas untuk mendirikan DPLK, tidak hanya asuransi jiwa dan bank,
  • Tersedianya produk anuitas yang dapat diandalkan dan kompetitif,
  • Meningkatkan insentif pajak untuk mendorong masyarakat untuk menambah tabungan pensiun.
  • Menyederhanakan proses pendaftaran DPLK melalui digital channels.

Mengutip kalimat William F. Sharpe di atas bahwa masalah pensiun bersifat multi dimensional (dan juga lintas generasi), maka diperlukan komitmen dan kolaborasi dari seluruh pihak terkait agar sistem pensiun dan implementasi dari sistem tersebut dapat kita tingkatkan secara terintegrasi baik dari aspek kecukupan, keberlanjutan maupun integritas, sehingga  demographic bonus yang kita miliki saat ini tidak akan menjadi demographic curse di kemudian hari, di mana rasio jumlah penduduk usia produktif terhadap  penduduk usia non produktif akan semakin kecil, dan para penduduk usia pensiunnya tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menghidupi diri sendiri dalam trend usia harapan hidup yang meningkat.

Siti Rakhmawati, CFA

Head of Advocacy CFA Society Indonesia

*) Tulisan ini disiapkan untuk kegiatan advokasi CFA Society Indonesia

 Akses publikasi  https://www.cfainstitute.org/en/research/survey-reports/2020-mercer-cfa-institute-global-pension-index

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


GLOBAL INVESTMENT PERFORMANCE STANDARDS:

UPAYA MENINGKATKAN TRUST KEPADA INDUSTRI INVESTASI*)

 

"Kami mengira dia adalah Tuhan. Kami mempercayai semua yang ada di tangannya"

Kalimat ini diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Elie Wiesel, yang yayasannya, Elie Wiesel Foundation For Humanity, kehilangan uang sebesar USD 15,2 juta pada 2009 setelah turut berinvestasi pada Lembaga keuangan Bernard Madoff .

Skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah ini merugikan ribuan korban, besar dan kecil termasuk individu, badan amal, dana pensiun dan hedge funds. Di antara korbannya ada aktor Kevin Bacon, Kyra Sedgwick dan John Malkovich, dan badan amal yang terkait dengan sutradara Steven Spielberg. Penipuan itu juga mengungkap lubang yang ada di the US Securites and Exchange Commission (SEC) atau Komisi Sekuritas dan Bursa AS karena dianggap lalai dan tidak mampu dalam melakukan pengawasan dan pemeriksaan.

Madoff menuturkan bahwa penipuannya dimulai pada awal 1990-an. Akan tetapi, jaksa dan banyak korban percaya itu dimulai lebih awal. Atas kejahatan rekayasa penipuan dengan skema ponzi (mengambil uang investasi dari seorang investor lalu diberikan ke investor lain) yang diperkirakan mencapai USD 64,8 miliar atau sekitar Rp 946,47 triliun (asumsi kurs Rp 14.606 per dolar AS) ini, Madoff dihukum 150 tahun penjara pada Juni 2009.

Para investor terpesona oleh klaim keuntungan tahunan dua digit yang mantap yang tampak dihasilkan Madoff. Skandal Madoff ini merupakan kasus ektrem yang semakin membangkitkan kesadaran perlunya standar perhitungan dan presentasi kinerja investasi yang tidak menyesatkan sehingga trust dari investor tidak tercederai.

Analogi atas pentingnya standar pengukuran dan penyajian bagi pembaca dan pengambil keputusan dapat kita lihat pada standar akuntansi untuk laporan keuangan perusahaan, yang klaim kesesuaian atas standar tersebut perlu diverifikasi oleh pihak independen yaitu Kantor Akuntan Publik. Tentunya kita masih ingat akan kasus Enron pada tahun 2001, yang merupakan skandal akuntansi terbesar dimana Kantor Akuntan Publik besar Arthur Andersen harus dibubarkan dan dibutuhkan upaya dan waktu yang lama untuk mengembalikan trust investor.


Global Investment Performance Standard (GIPS)

Dengan pertimbangan bahwa industri investasi sangat bergantung pada kepercayaan investor, pada tanggal 4 Juni 2021 yang lalu CFA (Chartered Financial Analyst) Society Indonesia menyelenggarakan webinar "Introduction to GIPS" dengan speaker dari Professional Conduct Enforcement & Global Industry Standards, CFA Institute.

Acara yang diikuti oleh peserta dari industri aset baik Dana Pensiun, Asuransi, Manajer Investasi, Regulator, serta stakeholders dan profesi pendukungnya ini bertujuan untuk memperkenalkan GIPS versi termutakhir yaitu edisi tahun 2020.

GIPS merupakan standar global dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi historis kepada klien berdasarkan prinsip-prinsip fair representation and full disclosure.

Tujuan dari standar GIPS antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Mempromosikan kepentingan dan meningkatkan kepercayaan investor.
  2. Memastikan akurasi dan konsistensi data.
  3. Memperoleh standar tunggal yang diterima di seluruh dunia dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi.
  4. Mempromosikan persaingan yang fair di antara perusahaan investasi.
  5. Mempromosikan self-regulation industri investasi dalam skala global.

Implementasi standar GIPS memungkinkan dicapainya hal-hal sebagai berikut :

  1. Bagi Manajer Investasi : dapat berkompetisi secara setara di seluruh market di seluruh dunia.
  2. Bagi Investor : mendapat informasi yang tidak menyesatkan (bad apples problem), dan dapat membandingkan kinerja historis dari para Manajer Investasi fair (apple to apple problem), sehingga memperoleh keyakinan dan kepercayaan dan dapat mengambil keputusan pemilihan Manajer Investasi dan produknya secara tepat.
  3. Bagi Pemilik Aset (dana pensiun, endowment fund, yayasan, sovereign wealth funds, provident funds, insurers & reinsurers, family offices, fiduciaries) : dapat menyajikan kinerja investasi secara fair dengan pengungkapan yang memadai, sehingga stakeholdersnya dapat mengambil keputusan yang tepat.

Inisiatif mengenai standarisasi kinerja investasi ini berawal pada tahun 1985 yaitu dengan diterbitkannya arahan bagi UCITS (Undertakings for the Collective Investment in Transferable Securities), sebuah kerangka pengaturan yang memungkinkan penjualan reksa dana antar negara di Eropa. Selanjutnya, Inggris dan Amerika serta Canada juga memiliki inisiatif serupa.

Sebagai organisasi profesi investasi global dengan misi "to lead the investment profession globally by promoting the highest standards of ethics, education, and professional excellence for the ultimate benefit of society"  pada tahun 1995, CFA Institute yang dulunya dikenal dengan nama Association for Investment Management and Research (AIMR), mensponsori dan mendanai Komite GIPS untuk mengembangkan standar global dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi berdasarkan berdasarkan Standar Penyajian Kinerja AIMR eksisting (AIMR-PPS®/ Performance Presentation Standards).

Pada tahun 1999, standar GIPS untuk pertama kalinya dipublikasikan. Komite GIPS digantikan oleh Investment Performance Council (IPC), yang berperan sebagai komite global yang bertanggung jawab atas standar, yang terdiri dari 36 anggota dari dari 15 negara. Anggotanya memiliki pengalaman investasi yang sangat beragam dan mendalam yang berasal dari beragam ukuran perusahaan dan memiliki spesialisasi baik di reksadana, private wealth management, asuransi,dana pensiun, private equity and venture capital, real estate, konsultan investasi, serta verifikator pengukuran kinerja.

Sejak saat itu IPC mempromosikan pendekatan CGV (Country Version of GIPS), di mana negara yang telah memiliki standar kinerja sendiri dapat mengadopsi GIPS sebagai rujukan utama yang melengkapi aturan dan praktek lokal.

Pada tahun 2006 seluruh CVG dihapuskan dan digabung menjadi standard GIPS (edisi tahun 2005). Dengan kolaborasi dari volunteer komunitas-komunitas investasi serta dibantu oleh sponsor-sponsor lokal untuk mempromosikan standar tersebut (di Indonesia antara lain terdiri dari CFA Society Indonesia dan APRDI / Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia), standar tersebut terus disempurnakan dan pada tahun 2011 dipublikasikanlah standar GIPS edisi tahun 2010.

Saat ini telah terdapat terdapat sekitar 1.806 perusahaan, dengan 24 dari 25 top Manajer Investasi di 48 negara telah mengklaim kesesuaian terhadap standard GIPS.

 

Standar GIPS Edisi Tahun 2020

Yang membedakan standar GIPS edisi tahun 2020 dari versi sebelumnya adalah adanya chapter "Pemilik Aset" / Asset Owner selain chapter "Perusahaan" / Firm dan chapter "Lembaga Verifikator" / Verifiers. Hal ini juga mengakomodasi kebutuhan untuk memasukkan instrument alternatif seperti property dan penyertaan saham yang biasanya juga terdapat dalam portofolio Pemilik Aset, selain instrumen pasar uang dan pasar modal.

Dalam standar GIPS, yang dimaksud dengan Manajer Investasi adalah sebagai berikut:

  1. Merupakan organisasi yang mengelola aset untuk klien dan bersaing sebagai bisnis
  2. Mengacu pada organisasi, bukan individu
  3. "Perusahaan" merupakan  sebuah entitas yang didefinisikan bagi kesesuaian terhadap standar GIPS
  4. Suatu Manajer Investasi dapat memiliki beberapa "Perusahaan".
  5. Terdiri dari manajer investasi dapat mengelola aset bagi klien individu, pooled fund, ataupun keduanya.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pemilik Aset adalah sebagai berikut :

  1. Suatu entitas yang mengelola investasi, baik secara in house / swa kelola maupun melalui penggunaan jasa Manajer Investasi eksternal, untuk kepentingan peserta, beneficiaries, maupun organisasi itu sendiri.
  2. Mengacu pada organisasi, bukan individu
  3. Pada umumnya bertanggung jawab kepada badan pengawas yang bertugas menetapkan kebijakan investasi dan memonitor kinerja investasi
  4. Terdiri dari dana pensiun, endowment fund, yayasan, sovereign wealth funds, provident funds, insurers & reinsurers, family offices, fiduciaries.

Berikut ini adalah manfaat bagi Pemilik Aset untuk mempersyaratkan standar GIPS bagi Manajer Investasi :

1.       Meningkatkan kemampuan untuk membandingkan kinerja antar Manajer Investasi dan strategi berdasarkan informasi internal dan eksternal yang konsisten dan komparabel.

Tanpa persyaratan yang terstandarisasi dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi, maka Pemilik Aset akan sulit untuk membandingkan laporan performansi dari Manajer Investasi karena tidak terdapat level playing field (apple to apple problem), dan Pemilik Aset dan badan pengawasnya sulit untuk membuat keputusan yang baik untuk menjalankan tugasnya karena data kinerja investasi yang digunakan kurang tepat (bad apples problem).

2.       Meningkatkan transparansi dari penyajian kinerja.

3.       Konsistensi dalam perhitungan dan penyajian hasil kinerja investasi, seperti misalnya frekuensi dari valuasi aset, perlakuan atas cashflow masuk dan keluar, serta akrualisasi.

4.       Mengungkapkan secara lengkap seluruh detil yang penting atas data kinerja yang ditampilkan antara lain biaya, kriteria konstruksi composite, dispersi, risiko, perubahan yang material, dan tolok ukur penilaian kinerja.

5.       Memperkuat proses dan kontrol internal pada perusahaan Manajer Investasi

6.       Mendorong perkembangan industry ke standar praktik terbaik yang etis

 

Berikut ini adalah bagan yang mengilustrasikan bagaimana Pemilik Aset dapat menggunakan standar GIPS

Bagan GIPS.png

Sumber : CFA Institute

Tahap pertama adalah dalam proses evaluasi dan seleksi di mana Pemilik Aset dan konsultan investasinya mempertimbangkan kinerja historis dalam mengevaluasi dan menyeleksi manajer investasi eksternal. Tahap selanjutnya adalah proses pelaporan di mana Pemilik Aset melaporkan kinerja historisnya ke stakeholdersnya, yang terdiri dari kinerja Manajer Investasi eksternal maupun internal.     

Standar GIPS untuk Pemilik Aset terdiri dari enam bagian sebagai berikut :

  1. Fundamentals of Compliance
  2. Input Data and Calculation Methodology
  3. Total Fund and Composite Maintenance
  4. Total Fund and Composite Time-Weighted Return Report
  5. Additional Composite Money-Weighted Return Report
  6. GIPS Advertising Guidelines

 

Sebuah Awal

Untuk mencapai kesesuaian terhadap standar GIPS ini –dan terlebih yang telah diverifikasi oleh lembaga independent-- tidaklah mudah. Diperlukan sosialisasi, kesadaran, komitmen, kompetensi, proses dan sistem yang berkesinambungan dan melibatkan banyak pihak baik regulator, stakeholders, Manajer Investasi dan Pemilik Aset.

Namun sebagai langkah awal, beberapa hal mendasar dari standar GIPS sebagai berikut dapat kita jadikan acuan:

  • Kinerja investasi diukur sebagai total return yang terdiri dari realized return dan unrealized return. Karena kinerja investasi yang hanya terdiri dari realized return saja belumlah komprehensif dan bisa saja menyisakan "sampah" khususnya apabila terdapat kendala untuk melakukan cut loss atas investasi yang prospeknya sudah tidak bagus lagi. Untuk Pemilik Aset, idealnya formula yang digunakan adalah money weighted rate of return (karena memiliki diskresi untuk menentukan timing investasi/divestasi), sedangkan untuk Manajer Investasi, formula yang lebih tepat adalah time weighted rate of return (karena tidak memiliki diskresi untuk menentukan timing investasi dan divestasi).
  • Valuasi aset menggunakan akuntansi pada tanggal transaksi (bukan tanggal settlement), valuasi aset harus diperoleh dari pihak ketiga yang independen dan qualified, return yang kurang dari setahun tidak boleh disetahunkan
  • Penyajian kinerja investasi ditayangkan dalam bentuk return yang gross of fee, net of external cost only, serta net of fee.
  • Presentasi risiko merupakan parameter kinerja yang sangat penting mengingat adanya pilihan "high risk, high expected return". Tanpa presentasi risiko, maka pembaca laporan tidak mendapatkan informasi yang menyeluruh sehingga bisa bersifat menyesatkan. Dalam dunia investasi dikenal juga parameter risk adjusted return atau berapa return yang dihasilkan per satu unit risiko. Parameter risiko yang biasa dipakai adalah nilai simpangan baku (standard deviation) dari return. Di samping risiko volatilitas, terdapat pula risiko lain di antaranya risiko suku bunga, risiko harga saham, risiko kurs, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko inflasi dan risiko reinvestasi.

 

Dengan upaya ini, baik bad apples problems maupun apple to apple problems sebagaimana digambarkan di atas dapat diminimalkan dan keyakinan serta kepercayaan investor dan stakeholders terhadap industri investasi dapat ditingkatkan untuk kemaslahatan bersama.

 

Siti Rakhmawati, CFA

Head of Advocacy CFA Society Indonesia

 

*) Tulisan ini disiapkan untuk kegiatan advokasi CFA Society Indonesia, disarikan dari berbagai sumber.

Akses terhadap materi standar GIPS  : http://www.gipsstandards.org/   

Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=gj2b88dzPwA&t=396s

Posted: 16 June 2021