Sign In

Career Guide: https://lnkd.in/gad7jnK

INVESTASI BERBASIS ESG (ENVIRONMENTAL, SOCIAL & GOVERNANCE)*

 

"We have forgotten how to be good guests, how to walk lightly on the earth as its other creatures do." —Barbara Ward (1972)

Kalimat ini diucapkan oleh salah satu penulis buku Only One Earth: The Care and Maintenance of a Small Planet' yang kemudian menjadi direktur pertama International Institute for Environment and Development, sebuah organisasi riset kebijakan dan aksi yang mempromosikan  pembangunan berkelanjutan dan menyambungkan prioritas lokal dengan tantangan global, yang menjadi cikal bakal ESG yang saat ini tengah marak.

Dalam laman http://governansi.org/, disebutkan bahwa ESG (atau kerap disebut Environmental, Social, and Corporate Governance /ESCG, Responsible Business Conduct /RBC, Co-Shared Value / CSV) merujuk pada tiga faktor sentral pengukuran dampak keberlanjutan dan etis dalam pengambilan keputusan untuk berinvestasi pada bisnis atau perusahaan tertentu yaitu Lingkungan, Sosial dan Governansi atau Tatakelola.

Investor umumnya menggunakan kriteria untuk ketiga faktor di atas dalam pertimbangan mereka untuk memilih investasi yang diambil

  1. Kriteria Lingkungan: Investor mempertimbangkan bagaimana perusahaan berkinerja dengan cara ramah lingkungan, misalnya :

                 a. Penggunaan energi ramah lingkungan;

                 b. Pengelolaan limbah agar tidak menjadi polutan;

                 c. Partisipasi dalam konservasi sumber daya alam tak tergantikan;

                 d. Perlakuan wajar terhadap binatang yang tidak semena-mena; dan

                 e. Penerapan sistem manajemen risiko yang efektif dalam pengelolaan risiko lingkungan.

  1. Kriteria Sosial: Investor mempertimbangkan bagaimana perusahaan mengelola hubungan kerja dengan para karyawan, pemasok, pelanggan, dan komunitas di mana mereka beroperasi, misalnya :
    1. Pemilihan pemasok yang juga memiliki kebijakan dan praktik ESG;
    2. Keterlibatan organisasi dalam pembangunan komunitas baik dalam bentuk persentase laba dan/atau kerja sukarela para karyawan bagi komunitas;
    3. Pemastian lingkungan kerja yang sehat dan aman bagi karyawan;
    4. Pemastian untuk mempertimbangan masukan dan harapan pemangku kepentingan terhadap organisasi.
  1. Kriteria Governansi atau Tatakelola: Investor mempertimbangkan bagaimana perusahaan membangun kepemimpinan yang mampu menjalankan prinsip tata kelola yang baik dan terlihat dalam struktur direksi dan dewan komisaris, sistem remunerasi direksi dan manajemen senior, sistem audit, pengendalian internal, dan perlindungan hak pemegang saham baik mayoritas maupun minoritas, antara lain :

                 a. Penggunaan metode akuntansi yang sesuai dengan standar yang diharuskan;

                 b. Pemastian bahwa semua pemegang saham diberikan kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan suara untuk keputusan mengenai isu yang penting bagi organisasi;

                 c. Pemastian tidak adanya 'konflik kepentingan' dalam pemilihan anggota direksi dan dewan komisaris;

                 d. Pemastian tidak adanya kontribusi politik untuk memperoleh perlakuan istimewa dari penerima kontribusi;

                 e. Pemastian tidak terlibat dalam kegiatan ilegal.

Mengacu pada publikasi CFA Institute Research Foundation tahun 2020 berjudul "ESG and Responsible Institutional Investing Around the World : A Critical Review", isu utama ESG adalah sebagai berikut :

Picture6.png

Environmental, Social & Governance (ESG) dan Sustainable Development Growth (SDG)

ESG ini mengelaborasi tujuh belas tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Growth /SDG (https://www.un.org/) sebagai berikut :

Aspek sosial mengelaborasi tujuan-tujuan ESG sebagai berikut :

         i. Tujuan pertama : no poverty

        ii. Tujuan kedua :  zero hunger

       iii. Tujuan ketiga : good health & well being

       iv. Tujuan keempat : quality education

        v. Tujuan kelima : gender equality

       vi. Tujuan kedelapan : decent work & economic growth

       vii. Tujuan kesepuluh : reduce inequality

      viii. Tujuan kesebelas : sustainable cities & communities

       ix. Tujuan ke tiga belas : climate action

Aspek environmental mengelaborasi tujuan-tujuan ESG sebagai berikut :

        i. Tujuan keenam : clean water & sanitation.

       ii. Tujuan ketujuh : affordable & clean energy

      iii. Tujuan kedua belas : responsible consumption & production.

      iv. Tujuan keempat belas : life below water.

       v. Tujuan kelima belas : life on land

Aspek governance  mengelaborasi tujuan-tujuan ESG sebagai berikut

        i. Tujuan kesembilan : industry, innovation & infrastructure

       ii. Tujuan keenam belas : peace, justice & strong institution.

      iii. Tujuan ketujuh belas :  partnership for the goals.

 Implementasi ESG di Indonesia

Pemerintah IRI memiliki komitmen terhadap penerapan ESG. Setelah pembahasan yang cukup panjang, pada tahun 2004 Indonesia akhirnya resmi meratifikasi Protokol Kyoto yang memiliki concern kepada isu perubahan iklim. Pada tahun 2016 Indonesia juga menandatangani Perjanjian Paris yang merupakan kesepakatan global yang monumental untuk menghadapi perubahan iklim. Pemerintah Indonesia juga telah melakukan beberapa reformasi kebijakan untuk menarik sektor swasta berinvestasi di sektor berkelanjutan. Salah satunya melalui penerbitan omnibus law UU Cipta Kerja, yang mereformasi beberapa undang-undang dan peraturan guna menarik lebih banyak investasi dari sektor swasta dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

OJK juga memiliki komitmen terhadap penerapan ESG. Pada tanggal 5 Oktober lalu OJK melakukan kick off meeting Task Force Keuangan Berkelanjutan di Sektor Jasa Keuangan yang terdiri dari 47 lembaga jasa keuangan yang mewakili asosiasi di industri perbankan (13 bank umum nasional konvensional dan syariah); pasar modal (7 emiten, 5 perusahaan efek, dan 3 manajer investasi), IKNB (5 asuransi umum, 6 asuransi jiwa, 3 perusahaan pembiayaan, 2 dana pensiun, BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, LPEI, dan PT SMF).

Inisiatif ini merupakan upaya mewujudkan pengembangan Ekosistem Keuangan Berkelanjutan, serta bentuk dukungan komitmen OJK pada upaya mitigasi serta adaptasi perubahan iklim (komitmen Paris Agreement) yang dituangkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC). 

OJK juga sudah mengeluarkan berbagai kebijakan, arahan, maupun peraturan, seperti mengeluarkan road map untuk sustainable finance, di mana tahap I sudah dimulai sejak 2015 dan dilanjutkan dengan terbitnya road map tahap II, yang dimulai tahun 2021 sampai 2025. Fokusnya adalah menyelesaikan kendala-kendala yang dihadapi untuk mewujudkan keuangan berkelanjutan.

OJK berharap pada tahun 2025, seluruh pelaku industri keuangan  secara bertahap akan wajib menyampaikan laporan keberlanjutannya. Ini mulai dari perbankan besar, kemudian perbankan menengah-kecil serta emiten besar, sedang, dan kecil. Sampai awal September 2021, terdapat sekitar 144 perusahaan listed yang sudah menyampaikan sustainability report.  baik yang sudah mendapatkan kewajiban maupun yang secara voluntary.

 

Dampak Implementasi ESG

 

Green and sustainable menjadi satu elemen penting dari pemulihan ekonomi pascapandemi yang diinginkan oleh masyarakat global. Dalam konteks ini, transisi ekonomi rendah karbon telah mengemuka kembali dalam diskusi global governance terkini.

Namun untuk mencapai masa transisi ekonomi rendah karbon tersebut, tidak hanya pertumbuhan dan kesejahteraan yang berkelanjutan yang diperoleh, melainkan terdapat pula risiko bagi ketenagakerjaan maupun masyarakat yang perlu dimitigasi dengan baik.

UNFCC mencatat terdapat potensi sekitar 1,5 miliar pekerja akan terpengaruh oleh transisi ini secara global. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam berbagai forum mempromosikan jargon yang juga merepresentasikan kepentingan emerging market dan development ekonomi, dengan transisi yang tidak saja adil tetapi juga terjangkau sehingga diharapkan akan menghasilkan pertumbuhan yang berkelanjutan, sekaligus meningkatkan lapangan kerja dan mengurangi kesenjangan, yang tentunya merupakan aspirasi dari seluruh masyarakat global.

 

Mengapa Investasi Berbasis ESG

Saat ini investor sudah tidak lagi beranggapan bahwa hal-hal yang tidak ramah terhadap ESG sebagai externalities di luar investment yang dapat dikompensasikan dengan Corporate Social Responsibility / CSR. Dengan kesadaran ini CSR lebih cenderung dianggap sebagai legitimasi sosial yang bersifat superfisial sehingga investor ingin menginvestasikan dananya kepada perusahaan yang secara internal mengakomodasi nilai-nilai ESG karena investasi tidak lagi dianggap bersifat bebas nilai.

Meningkatnya tuntutan dari para investor global ini tercermin dari bertambahnya anggota Principles for Responsible Investment (PRI), dengan dana kelolaan dunia US$ 100 triliun pada 2020 dari sebelumnya US$ 59 triliun tahun 2015. Jumlah pengelola dana yang bergabung pun semakin meningkat.

OJK juga memberikan insentif kepada corporate action perusahaan, antara lain untuk penerbitan green bond. September kemarin Pemerintah RI menerbitin global green bond sebesar 500 juta Euro. Dengan permintaan yang cukup tinggi dari investor, Pemerintah dapat menerbitkan SDG bond tanpa tambahan new issue concessions (NIC) yang biasanya diberikan sebagai insentif agar investor tertarik membeli bond baru yang merupakan tambahan pasokan di pasar.

Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan komitmennya dengan penerbitan indeks-indeks bertemakan ESG. Jumlah dana kelolaan atau asset under management dari reksa dana dan ETF yang berbasis indeks green, terus menunjukkan peningkatan dan minat yang meningkat tajam dari waktu ke waktu.

Picture7.jpg

Penerapan ESG diyakini dapat mendorong kinerja perusahaan menjadi lebih baik. Sebanyak 88% perusahaan yang diteliti memperlihatkan korelasi yang positif akan kinerja operasionalnya pada saat mereka mempraktikkan ESG dengan baik. Sementara itu, sebanyak 80% perusahaan menunjukkan kinerja pergerakan harga saham yang juga lebih baik serta valuasi yang lebih baik.

Hal ini terlihat dalam data sebagai berikut, di mana indeks ESG memberikan return dan risk adjusted return (yaitu Sharpe ratio) yang lebih tinggi serta valuasi (dalam bentuk rasio price to earning, price to earning forward, maupun price to book value) yang lebih tinggi.

Picture4.png

Gambar 1. MSCI Indonesia ESG Leaders Index (USD) MSCI Indonesia ESG Leaders Index (USD) | Sumber : msci.com

Picture5.png

Gambar 2. Perbandingan kinerja IHSG,indeks LQ45 dan Indeks ESG Srikehati (sumber Bloomberg)

 Strategi Investasi ESG

Mengacu pada publikasi CFA Institute Research Foundation tahun 2020 berjudul "ESG and Responsible Institutional Investing Around the World : A Critical Review", terdapat beberapa strategi berinvestasi ESG sebagai berikut :

    1. Screening : mengidentifikasi  perusahaan yang akan menjadi pilihan investasi,
      1. negative screening (mengacu pada daftar negative sektor, perusahaan  atau praktik yang berdasarkan kriteria spesifik ESG untuk tidak dipilih),
      2. positive screening (mengacu pada daftar yang memiliki kinerja ESG lebih baik untuk dipilih), atau
      3. norm based screening (mengacu pada standar  minimum dari praktik bisnis yang mengacu pada norma internasional)
    2. Thematic : berinvestasi di aset yang ramah ESG, seperti clean energy, green technology, sustainable agriculture, atau social bonds yang dananya akan dialokasikan untuk project sosial.
    3. Integration : Penerapan factor-faktor ESG secara inklusif dalam analisis finansial dan evaluasi investasi.
    4. Engagement
      1. Individual : tim investasi menggunakan posisi tawarnya sebagai pemegang saham untuk mempengaruhi perilaku perusahaan, baik melalui komunikasi dengan senior senior management dan direksi perusahaan dan menyampaikan  proposal pemegang saham.
      2. Collaborative: berkolaborasi dengan investor lain dalam melakukan Tindakan di atas.
      3. Internal voting: penggunaan hak suara dengan mengacu pada guideline ESG guidelines secara internal (tidak diwakilkan kepada service provider eksternal.

 

Investasi ESG Bagi Investor Institusi

Dalam publikasi CFA Institute tahun 2010 berjudul "Elements of An Investment Policy Statement For Institutional Investors" (https://www.cfainstitute.org/-/media/documents/article/position-paper/investment-policy-statement-institutional-investors.ashx) diberikan referensi struktur praktik terbaik arahan investasi yang menjadi pedoman dalam menjalankan mandat investasi. Selain tata kelola dan manajemen risiko, bagian penting lain adalah bagia investasi, tujuan return dan risiko yang mencakup hal-hal sebagai berikut

  • penetapan tujuan investasi secara keseluruhan,
  • persyaratan risiko dan return yang mencerminkan optimalisasi investasi,
  • toleransi terhadap risiko,
  • constraint investasi yang dapat bersumber dari hukum, regulasi dan kebijakan internal,
  • pertimbangan investasi lain yang terkait dengan strategi investasi, antara lain pendekatan filosofis terhadap investasi yang dapat mencakup berbagai dimensi seperti efisiensi pasar, tingkat oportunisme yang terantisipasi; kemauan untuk memasukkan factor ESG dalam pengambilan keputusan, dan seterusnya.

Sebagai ilustrasi, pada tanggal 13 Oktober yang lalu Department of Labors US memberikan usulan aturan yang secara eksplisit memberikan ijin kepada pengelola dana retirement untuk mempertimbangkan faktor perubahan iklim dan ESG dalam pemilihan investasi dan menggunakan hak-haknya sebagai pemegang saham.

 

Sertifikasi ESG

Dengan luasnya isu serta masih beragamnya pemahaman tentang investasi ESG ini, pada Maret 2021 yang lalu  CFA Institute, sebuah organisasi profesi investasi yang memiliki misi "to lead the investment profession globally by promoting the highest standards of ethics, education, and professional excellence for the ultimate benefit of society" mengumumkan inisiatif untuk menerbitkan standar di bidang investasi ESG, yang bertujuan untuk memperkuat integritas pasar dengan menyediakan benchmark pengetahuan dan skill yang diperlukan para professonal investasi untuk mengintegrasikan factor ESG dalam proses investasi. Penerbitan standar yang akan dilanjutkan dengan program sertifikasi ini direncanakan akan dilakukan pada tanggal 1 November 2021.

Program ini pada awalnya dikembangkan dan diaward oleh CFA Society UK dan telah diadopsi oleh CFA Institute serta dikembangkan oleh para praktisi terkemuka dan diakui oleh UN PRI (Principle for Responsible Investment), sebuah badan independent yang mendorong investor untuk menggunakan kegiatan investasi untuk mencapai return yang lebih tinggi sekaligus mengelola risiko bisnis dengan lebih baik.

                                           

Penutup

Isu ESG saat ini memang semakin marak. Dan semoga serta tampaknya tidak akan hanya tumbuh semusim  sebagaimana cendawan di musim hujan. Karena tuntutan ini tidak hanya datang dari negara maju dan investor global, namun juga sangat dekat dengan kehidupan kita. Beberapa waktu yang lalu saya terkaget-kaget ketika anak perempuan saya yang berusia 13 tahun dan mulai rajin bercermin, minta dibelikan perawatan wajah merk A sambil menyebutkan tidak mau memakai merk B. Ketika saya tanya mengapa, jawabnya adalah karena merk B tidak animal-cruelty-free, tidak menggunakan konsep daur ulang, dan tidak bebas bahan kimia.

Ternyata generasi yang sering diremehkan sebagai generasi micin ini mulai memiliki kesadaran ESG secara inklusif. Hal ini semakin menyadarkan  bahwa "kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang, tapi kita meminjamnya dari anak cucu kita."

 

Siti Rakhmawati, CFA

Direktur Investasi Dana Pensiun Telkom

*) Tulisan ini disiapkan untuk kegiatan advokasi CFA Society Indonesia dan kontribusi untuk majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia



-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

TATA KELOLA INVESTASI DI SAHAM BURSA &

PELUANG SERTA RISIKO BERINVESTASI DI SAHAM TEKNOLOGI

BAGI INVESTOR INSTITUSI*)

 Pada akhir bulan Juli lalu perusahaan rintisan PT Bukalapak.com melakukan penawaran umum saham perdananya di Bursa Efek Indonesia. Aksi korporasi ini merupakan awal dari rencana perusahaan teknologi lain yang juga akan melantai di bursa saham kita dalam waktu dekat. Seperti gayung bersambut, kehausan investor akan pilihan saham teknologi yang belakangan ini sedang hype, terobati. Antusiasme investor yang besar membuat emiten ini dapat meghimpun dana sebesar Rp. 21,9 triliun di tengah kondisi pasar saham yang tengah lesu darah.

Setelah sempat mengalami lonjakan harga sehingga menyentuh ARA (auto rejection atas), dalam waktu yang tidak terlalu lama harga saham dengan kode BUKA sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan hingga menyentuh ARB (auto rejection bawah). Volatilitas harga saham yang tinggi dalam waktu dekat ini mengingatkan kita bahwa pasar modal memang cenderung digerakkan oleh greed and fear instinct, sehingga mau tidak mau membuat kita galau. Kegalauan ini membuat kita perlu melihat lagi pakem berinvestasi khususnya di saham, terlepas bahwa saham teknologi merupakan jenis saham ekonomi baru yang membutuhkan pendekatan dan metrik valuasi yang juga berbeda.

Kerangka Berinvestasi di Saham Bursa

Mengacu pada body of knowledge program sertifikasi Chartered Financial Analyst yang dikelola oleh organisasi profesi investasi CFA Institute (https://www.cfainstitute.org), peran investasi di saham adalah untuk melakukan hedging terhadap inflasi dan sebagai mesin pertumbuhan untuk mengembangkan aset. Kelas aset saham memiliki ekspektasi return sekaligus tingkat risiko yang relatif lebih tinggi dibanding kelas aset lain, sesuai dengan sunatullah high risk high expected return.

Sehingga untuk bisa menciptakan nilai secara berkesinambungan dari investasi saham, diperlukan tata kelola dan manajemen risiko yang baik. Tahap pertama adalah perlu adanya investment policy statement atau arahan investasi yang salah satu bagian pentingnya adalah  kebijakan alokasi aset strategis yang idealnya disusun dalam sebuah koridor untuk mengoptimalkan peluang jangka pendek dan menengah (termasuk alokasi di kelas aset saham. Penyusunannya dilakukan dengan penetapan sasaran risiko dan return, dengan constraint kebutuhan likuiditas, horizon investasi, regulasi, perpajakan dan kebutuhan dan atau preferensi khusus apabila ada. Khusus bagi investor institusi yang memiliki kewajiban tertentu seperti asuransi dan dana pensiun dengan program manfaat pasti idealnya didahului dengan asset liability management study yang mengacu pada profil kewajiban, untuk mengukur risiko volatilitas rasio pendanaan.

Dalam eksekusinya, implementasi atas kebijakan alokasi aset strategis yang bersifat jangka panjang ini harus disesuaikan dengan assessment atas siklus makro ekonomi dan kondisi market dalam jangka pendek dan menengah sesuai dengan koridor batasan untuk optimalisasi secara taktikal. Hal ini disebabkan karena dalam siklus ekonomi tertentu kelas aset tertentu akan berkinerja lebih tinggi atau rendah dibanding rata-rata jangka panjangnya. Misalnya secara umum kinerja kelas aset pendapatan tetap akan berkinerja lebih baik dibanding kelas aset saham saham pada saat siklus kontraksi ekonomi dan sebaliknya.

Setelah ditentukan jumlah alokasi di kelas aset saham, maka pada tahap selanjutnya perlu dibuat strategi pembentukan porftolio dengan tujuan optimalisasi antara minimalisasi biaya, pajak dan volatilitas, serta untuk menyediakan peluang untuk mencetak kinerja yang unggul dibanding benchmark atau tolok ukur kinerja. Sebagai catatan, penilaian kinerja ini akan lebih baik lagi apabila dilakukan dengan mengacu pada standar praktik terbaik sebagaimana artikel majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia edisi Mei-Juni 2021 yang lalu 'Global Investment Performance Standards : Upaya Meningkatkan "Trust" kepada Industri Investasi' dan materi standar kinerja investasi global / GIPS tersebut dapat diakses di laman https://www.cfainstitute.org/en/ethics-standards/codes/gips-standards.

Strategi dimaksud mencakup penetapan diversifikasi antara portofolio inti atau core yang bertujuan untuk memberikan stabilitas dengan portofolio satelit yang bertujuan untuk memberikan peningkatan return. Selanjutnya perlu ditetapkan diversifikasi antara strategi pasif yang bertujuan untuk menyamai kinerja indeks saham tertentu, strategi semiaktif yang bertujuan untuk mencapai kinerja relatif sedikit lebih tinggi dibanding indeks saham tertentu, serta strategi aktif yang bertujuan untuk mencapai kinerja relatif jauh lebih tinggi dibanding indeks saham tertentu. Semakin konservatif risk appetite investor, maka semakin besar porsi portofolio inti dan porsi investasi dengan strategi pasif. Sebaliknya semakin agresif risk appetite, maka semakin besar porsi di portofolio satelit dan investasi dengan strategi aktif dengan harapan untuk mencapai kinerja yang lebih tinggi dibanding benchmark namun tentunya dengan risiko sebaliknya, malah jatuh lebih rendah dibanding benchmark.

Setelah itu perlu ditetapkan juga kebijakan diversifikasi mengenai gaya investasi. Gaya investasi adalah pengelompokan disiplin investasi secara natural yang memiliki daya prediksi dalam menjelaskan pergerakan return dalam portofolio investasi.  Terdapat beberapa gaya investasi antara lain :

  1. value investing; yang memiliki fokus untuk berinvestasi di saham-saham dengan harga yang relatif lebih murah dari nilai fundamentalnya, dengan harapan bila faktor sentimen dan likuiditas teratasi, maka harga saham akan kembali naik ke level fundamentalnya sehingga diperoleh return. Gaya value investing terdiri dari beberapa bagian antara lain low P/E, contrarian & high yield.
  2. growth investing; yang memiliki fokus untuk berinvestasi di saham-saham yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, dengan harapan apabila ekspektasi pertumbuhan ini tercapai, maka harga saham akan mengalami kenaikan sehingga memberikan return. Sedangkan gaya growth investing terdiri dari beberapa bagian antara lain consistent growth & earning momentum.

Untuk menentukan keputusan diversifikasi antara kedua gaya berinvestasi ini harus dilihat profil kewajiban, horizon investasi dan risiko yang dapat diterima. Secara umum growth stock akan memiliki potensi return yang lebih tinggi namun juga risiko dan ketidakpastian yang lebih tinggi dibanding value stock.

Selain strategi mengenai struktur portofolio tersebut, sebagai investor saham yang hak klaimnya paling rendah dibanding investor obligasi dan kreditur lain, kita juga perlu memastikan bahwa perusahaan yang kita beli sahamnya memiliki tata kelola yang baik untuk mencegah masalah keagenan dan moral hazard, baik oleh manajemen maupun pemegang saham pengendali. Masalah keagenan adalah masalah di mana manajemen tidak bertindak untuk kepentingan terbaik pemegang saham. Moral hazard bisa berbentuk usaha yang kurang sungguh-sungguh, pemborosan dalam hal investasi dan biaya operasional, strategi bisnis untuk mengamankan posisi mereka, serta mengambil keuntungan pribadi.

Sebagai investor portofolio yang bersifat minoritas dan tidak memiliki hak pengendalian, tentunya kita harus berhati-hati agar uang yang kita titipkan dikelola dengan baik dan berbuah manis secara berkesinambungan dan mendukung pencapaian tujuan investasi kita.

 

Saham Teknologi yang Sedang Hype

Dengan adanya revolusi teknologi, perubahan gaya hidup dan juga dampak dari pandemi covid19 yang semakin mendorong perubahan ke arah ekonomi baru, peluang investasi di saham teknologi tidak bisa dinafikan lagi.  Dalam sesi Strategi Investasi di Saham dan Peluang Investasi Digital dalam forum seminar Outlook Ekonomi Asosiasi Dana Pensiun Indonesia tanggal 21 Juli yang lalu, disampaikan pula bahwa trend ke arah ekonomi baru ini tidak terhindarkan lagi.

Ekonomi digital Indonesia tumbuh kencang didorong oleh e-commerce. Proyeksi yang dibuat oleh Mandiri Sekuritas menyebut bahwa GMV (gross merchandise value atau akumulasi nilai pembelian dari pengguna melalui situs atau aplikasi) Indonesia akan mencapai US$76 miliar pada tahun 2025, tumbuh eksponensial dari nilai US$8 miliar di tahun 2017. Pandemi Covid19 juga membuat jumlah pengguna internet bertambah secara signifikan. Google, Temasek dan Bain & Company juga memperkirakan bahwa  jumlah jam yang dihabiskan untuk online meskipun akan turun namun diperkirakan tidak akan kembali ke level sebelum pandemi. Indonesia juga berada dalam ranking pertama di ASEAN dan ranking keempat negara dengan konsumsi internet terbesar di dunia pada posisi kuartal 1 tahun 2021 (http://www.internetworldstats.com). Kebanyakan perusahaan unicorn di ASEAN juga berasal dari Indonesia.

Dalam seminar tersebut juga ditampilkan data pergeseran top 10 market cap di bursa saham di US dan Hongkong yang menjadi didominasi oleh saham-saham digital, yang bisa jadi menjadi trajectory bagi bursa saham kita.

Article Ibu Rahma.png


Disampaikan juga bahwa salah satu sebab bursa saham Indonesia saat ini relatif tertinggal dibanding bursa saham negara lain adalah karena kurangnya eksposure saham-saham digital, yang menikmati benefit di tengah kondisi pandemi saat ini.

Mengacu ke literatur mengenai kerangka berinvestasi di saham sebagimana diuraikan di atas, saham-saham teknologi adalah termasuk ke dalam growth stock yaitu saham yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, dengan harapan apabila ekspektasi pertumbuhan ini tercapai, maka harga saham akan mengalami kenaikan sehingga memberikan return.

Perusahaan-perusahaan digital memiliki karakteristik antara lain merupakan inisiatif yang relatif baru, berada pada early life cycle sehingga memiliki potensi pertumbuhan yang tinggi namun terkadang cashflownya masih negatif, dan kalaupun sudah untung belum membagikan dividen karena kebutuhan investasi masih tinggi. Namun perlu diingat bahwa a good company (dalam arti perusahaan yang laporan keuangannya sudah bagus) does not always make a good investment (apabila harga kemahalan dan sudah tidak memiliki prospek pertumbuhan). Mengingat peran investasi saham dalam portofolio adalah untuk memberikan perlindungan terhadap inflasi dan memberikan potensi pertumbuhan, maka sudah sewajarnya salah satu pertimbangan dalam berinvestasi adalah melihat prospeknya. Hal ini pun sudah diakomodir oleh regulator dengan menghapus aturan bahwa untuk bisa listing di bursa saham, perusahaan harus sudah membukukan laba tiga tahun berturut-turut.

Valuasi Saham Teknologi

Secara umum valuasi harga saham adalah dengan menggunakan pendekatan pendapatan (income approach) atau pendekatan perbandingan pasar (price multiple approach). Dilema valuasi saham teknologi adalah apabila akan menggunakan pendekatan pendapatan, maka akan dapat ditangkap nilai dari potensi pertumbuhannya namun sulit dibandingkan dengan harga saham sejenis lainnya. Sebaliknya apabila menggunakan pendekatan perbandingan pasar, maka akan dapat ditangkap potensi pertumbuhan untuk diperbandingkan dengan perusahaan sejenis lain, namun di sisi lain karena masih berada di tahap awal, pendapatan perusahaan seringkali masih rendah atau negatif.

Jalan tengahnya adalah pendekatan penilaian dengan pendekatan perbandingan pasar yang disesuaikan dengan potensi pertumbuhan (growth adjusted price multiple), bisa berupa growth adjusted price to sales, growth adjusted price to GMV dan seterausnya. Belajar dari pengalaman Amerika, nilai growth adjusted price to sales dari saham-saham teknologi sejak tahun 2006 berada pada kisaran 0,2-0,3x (sumber : STAR & Kredit Rating Indonesia).

Namun demikian karena berinvestasi di saham teknologi ibarat membeli harapan, maka sesuai dengan teori behavioral finance yang juga merupakan bagian dari body of knowledge program sertifikasi Chartered Financial Analyst sebagaimana diulas dalam artikel majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia edisi Juli-Agustus 2020 yang lalu berjudul "Jebakan Behavioral Fianance Dalam Pengelolaan Investasi", investasi di saham teknologi ini relatif lebih rawan terhadap bias-bias psikologis khususnya perilaku herd behavior atau ikut-ikutan. 

Fenomena dot com bubbles yang terjadi pada saat awal munculnya internet di tahun 2000an tentunya menjadi pelajaran bagi kita. Kenaikan harga-harga saham teknologi yang sangat tinggi karena aksi borong para investor yang pada akhirnya mengalami penurunan drastis karena aksi jual ini mendorong E.S. Browning & Greg IP, reporter Wall Street Journal menulis tentang mitos-mitos investasi di saham teknologi pada bulan Oktober 2000. Mitos tersebut antara lain disebutkan sebagai berikut:

1.       Perusahaan teknologi dapat terus memberikan keuntungan yang menakjubkan dalam hal keuntungan, penjualan dan produktivitas di tahun-tahun mendatang; dalam kenyataannya kompetisi dan disrupsi akan menormalisasinya.

2.       Perusahaan teknologi tidak akan terkena dampak ekonomi seperti perlambatan ekonomi dan kenaikan suku bunga; dalam kenyataannya perusahaan teknologi tidak memiliki imunitas tersebut.

3.       Monopoli menciptakan keuntungan yang tidak terkalahkan; dalam kenyataannya ada concern terhadap antitrust seperti yang dialami Microsoft di mana sahamnya sempat anjlok hingga separuh harga karena tuntutan Departemen Kehakiman.

4.       Pertumbuhan internet secara eksponensial baru dimulai dan akan terus terakselerasi; dalam kenyataannya pertumbuhan akan cenderung melambat dengan adanya high basis dan faktor lain seperti kompetisi dan disrupsi.

5.       Prospek adalah jauh lebih penting daripada keuntungan saat ini; dalam kenyataannya hal ini tergantung pada horizon investasi dan risk appetite investor.

6.       Pada saat ini, semua hal berbeda (sehingga pantas mendapatkan euphoria yang di luar kebiasaan); dalam kenyataannya tetap ada hal-hal yang secara umum akan menjadi batasan.

Meskipun saat ini penggunaan internet dan business modelnya sudah semakin matang dan terbukti sehingga sangat berbeda kondisinya dengan tahun 2000an, namun kecenderungan investor untuk ikut-ikutan dengan logika "You jump, I jump" sehingga menjadi tidak rasional dalam melakukan valuasi saham teknologi, tetap perlu kita waspadai karena bisa bersifat kontraproduktif atau bahkan bisa mengulang kesalahan sejarah berupa fenomena euphoria irrational exuberance yang dipopulerkan oleh Alan Greenspan.

Tips Berinvestasi di Saham Teknologi

Sebagaimana pepatah no pain no gain, berakit-rakit dahulu berenang-renang ke tepian, atau jer basuki mawa bea (red_Jawa : setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan), maka tidak ada return apabila tidak mengambil risiko. Mengingat trend ke arah digitalisasi sudah menjadi keniscayaan, maka strategi menutup mata terhadap peluang saham teknologi ini akan menimbulkan loss opportunity. Yang penting adalah risiko yang diambil adalah terukur dan sesuai dengan tujuan dan constraint dari investasi kita.

Untuk bisa menciptakan nilai dari investasi saham, maka setelah mengerjakan pekerjaan rumah mengenai penyusunan tata kelola investasi di saham, penentuan alokasi aset di saham baik secara strategis maupun taktikal, penentuan strategi portofolio (antara lain kebijakan diversikasi antara inti/satelit; antara pasif/semiaktif/aktif; antara value/growth) yang tentunya akan berbeda sesuai dengan kondisi masing-masing investor, serta dilanjutkan dengan penentuan strategi sektoral untuk menemukan sektor mana yang akan benefit dalam siklus ekonomi dan kondisi saat ini, maka perlu dilakukan analisis untuk menentukan pemilihan saham (stock selection) secara selektif yang akan dimasukkan ke dalam portofolio.

Selain memilih saham yang memiliki manajemen dan tata kelola yang baik, saham teknologi yang akan bertahan adalah yang memiliki ekosistem yang menyeluruh untuk menciptakan barrier to entry bagi pesaing sehingga akan mengamankan proses memonetisasi jumlah pelanggan dan penjualan yang besar. Laporan keuangan dengan cashflow yang masih negatif atau merugi bukan hal yang pantang, mengingat praktek membakar uang ini dapat dianalogikan sebagai belanja working capital (perusahaan non teknologi pun masih merugi pada fase awal beroperasi). Namun yang perlu dicermati adalah trendnya, apabila semakin besar kerugiannya maka perlu dipertanyakan apakah business propositionnya dapat diterima oleh pasar. Dan hal ini kembali kepada kebijakan, strategi dan risk appetite masing-masing investor. Analoginya adalah saat kita akan membeli apartemen, pada saat baru berupa prospek tentu harganya masih relatif murah karena risiko juga tinggi, baik risiko legal, konstruksi maupun operasional. Namun apabila kita baru berani mebeli unit apartemen yang sudah jadi dan beroperasi secara penuh dengan ekosistemnya, tentunya harganya pun sudah relatif mahal.

Untuk itu sebagai investor kita juga perlu mengecek apakah perusahaan memberikan user experience yang bagus, antara lain dengan mencoba produknya dan membandingkan dengan produk dari perusahaan lain apabila ada. Hal yang penting lainnya adalah pada saat membeli saham, pastikan harganya tidak kemahalan dan dapat dijustifikasi dengan potensi pertumbuhan yang wajar tentunya dengan metrik valuasi ekonomi baru sebagaimana diulas di atas. Setelah itu jangan terombang ambing oleh greed & fear pasar yang membuat kita melakukan transaksi jual beli yang tidak perlu sehingga berdampak pada biaya investasi yang tinggi.

Mengingat masih besarnya ketidakpastian perusahaan mana yang pada akhirnya akan established dan memenangkan kompetisi, maka diversifikasi juga merupakan suatu keharusan. Prinsip "jangan menaruh seluruh telur di satu keranjang' memerlukan suatu disiplin. Sebagai contoh, dari sekian banyak layanan yang dirilis oleh perusahaan Gojeg, layanan yang benar-benar diterima masyarakat dapat dihitung dengan jari. Dengan diversifikasi, diharapkan keuntungan dari beberapa investasi yang berhasil dapat menutup kerugian dari investasi yang merugi, bahkan memberikan nilai tambah.

Perlu diingat pula bahwa eksposur terhadap ekonomi baru tidak hanya diperoleh dari investasi di perusahaan-perusahaan rintisan yang baru melantai di bursa saham, namun juga dari perusahaan eksisting yang tentunya akan berusaha melakukan transformasi digital dengan beradaptasi terhadap perubahan trend teknologi dan gaya hidup.

Siti Rakhmawati, CFA

Direktur Investasi Dana Pensiun Telkom

*) Tulisan ini disiapkan untuk majalah Asosiasi Dana Pensiun Indonesia, disarikan dari CFA Body of Knowledge, & berbagai sumber.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

MENILIK SISTEM PENSIUN INDONESIA

DAN PELUANG UNTUK TRANSFORMASI BERKELANJUTAN*)

"It's a really hard problem –the hardest problem I've considered—because it's multidimensional"

Kalimat tersebut diucapkan oleh peraih hadiah Nobel ekonomi, William F. Sharpe, saat menyampaikan perhatiannya terhadap permasalahan pensiun dalam forum konferensi tahunan CFA Institute ke 67 pada tahun 2014.

Sebagai organisasi profesi investasi, CFA Institute yang memiliki misi "to lead the investment profession globally by promoting the highest standards of ethics, education, and professional excellence for the ultimate benefit of society" menyadari bahwa industri investasi sangat berperan dalam membangun kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan laporan World Economic Forum 2017 yang menyebutkan bahwa sistem pensiun yang sehat berkontribusi positif dalam membangun ekonomi yang sejahtera dan stabil, CFA Institute telah menaruh perhatian dengan mempublikasi artikel-artikel terkait pensiun dalam Financial Analyst Journal serta melalui yayasan risetnya sejak 70 tahun yang lalu, serta melaunching inisiatif leadership yang dinamai "The Future of Finance".

Dalam 2015 Global Market Sentiment Survey, para member CFA Institute ditanya tentang risiko  yang paling disepelekan namun dapat berpengaruh negatif terhadap pasar modal global dalam 5 tahun ke depan. Hasilnya 20% responden memilih dampak dari tren populasi yang menua, sedangkan 14% memilih defisit pendanaan dana pensiun serta tingkat tabungan pensiun yang rendah. Selain itu juga dilakukan riset terhadap industry trust, yang menunjukkan bahwa hampir separuh pengelola dana pensiun dengan program manfaat pasti (defined benefit) mengantisipasi harus akan mengurangi manfaat pensiun dalam sepuluh tahun ke depan namun, sebaliknya sekitar 70% peserta yakin bahwa janji manfaat pensiun dapat dibayar sesuai janji. Hal ini merupakan deferred trust deficit yang harus menjadi perhatian, terlebih dengan adanya tambahan tantangan antara lain sebagai berikut:

  • Populasi yang menua akibat menurunnya tingkat kelahiran serta meningkatnya usia harapan hidup.
  • Trend suku bunga yang semakin menurun, yang memunculkan pertanyaan yang signifikan mengenai strategi investasi dana pensiun yang tepat, dan di sisi lain berdampak terhadap kenaikan kewajiban sehingga menurunkan Rasio Kecukupan Dana.
  • Dampak pandemi COVID-19.
  • Meningkatnya utang negara secara signifikan untuk program subsidi yang di masa depan dapat berpotensi mempengaruhi kemampuan untuk membayar manfaat pensiun yang tidak didanakan dan untuk menyediakan program proteksi sosial.
  • Kurangnya cakupan dan tabungan pensiun bagi para pekerja, baik akibat pasar tenaga kerja informal maupun meningkatnya "gig employment" secara signifikan yang meningkatkan employee turnover dari satu pemberi kerja ke pemberi kerja lain.

2020 Mercer CFA Institute Global Pensiun Index

Sebagai salah satu wujud komitmennya, CFA Institute juga mensponsori 2020 Mercer CFA Institute Global Pension Index yang telah dirilis pada bulan Oktober tahun 2020 lalu, berkolaborasi dengan Mercer dan Monash Centre for Financial Studies. Laporan yang merupakan rilis kedua belas ini mensurvei dan merating sistem pensiun dari 39 negara yang mencakup sekitar 2/3 populasi dunia berdasarkan tiga sub indeks yaitu  kecukupan, keberlanjutan dan integritas, serta merekomendasikan upaya untuk perbaikan di masing-masing sistem.  

Memang tidak mudah untuk membuat rating ini karena keterbatasan data serta assessment terhadap implementasi dari aturan yang ada, sehingga laporan ini mengandalkan data dan informasi yang telah dipublikasi serta aturan yang ada, terlepas dari efektivitas dan disiplin dalam implementasinya. Namun kendala tersebut tidak menghalangi upaya untuk menyajikan pelajaran, pengalaman atau gagasan yang bermanfaat bagi pengembangan dan reformasi sistem pensiun.

Dalam publikasi ini disebutkan bahwa tidak ada sistem pensiun yang sempurna yang dapat diterapkan secara universal, namun terdapat beberapa tujuan serupa yang dapat dirujuk untuk mencapai hasil yang lebih baik, sebagai berikut :

  1. Aspek kecukupan
    • Terdapat minimal jumlah manfaat pensiun bagi rakyat miskin yang mencerminkan persentase yang wajar terhadap rata-rata penghasilan masyarakat.
    • Perbandingan antara penghasilan di masa pensiun dengan masa bekerja bagi median pekerja penuh waktu setidaknya sebesar 70%.
    • Setidaknya 60% dari akumulasi tabungan pensiun tidak diambil secara sekaligus.
  2. Aspek keberlanjutan
    • Setidaknya 80% dari populasi pekerja menjadi peserta dana pensiun sukarela.
    • Aset dana pensiun saat ini lebih besar dari 100% GDP sehingga dapat mendanai kewajiban pensiun di masa mendatang. 
    • Angka partisipasi kerja bagi penduduk berusia 55 sampai dengan 64 tahun setidaknya sebesar 80%.
  3. Aspek integritas
    • Terdapat regulator yang kuat dan prudent yang mengawasi dana pensiun.
    • Terdapat komunikasi secara berkala kepada peserta mencakup provisi personal statements, proyeksi manfaat pensiun yang akan diterima, serta laporan tahunan.
    • Aturan pendanaan yang jelas baik pada dana pensiun dengan program manfaat pasti maupun iuran pasti.

Disebutkan juga bahwa untuk meningkatkan aspek kecukupan dan keberlanjutan dari sistem pensiun di seluruh dunia, diperlukan reformasi secara global antara lain dalam hal-hal sebagai berikut:

  • Meningkatkan cakupan pekerja dan pekerja mandiri dalam dana pensiun sukarela.
  • Memperpanjang usia pensiun.
  • Mempromosikan tingkat partisipasi kerja pada populasi dengan usia yang lebih tua.
  • Mendorong tingkat tabungan pribadi yang lebih tinggi untuk mengurangi ketergantungan pada dana pensiun wajib.
  • Mengurangi tingkat pengambilan tabungan pensiun sebelum usia pensiun.
  • Memperkenalkan ukuran untuk mengurangi gap antar gender.
  • Meningkatkan tata kelola dana pensiun dan memperkenalkan transparansi yang lebih baik untuk meningkatkan kepercayaan peserta dana pensiun.

Ideal Retirement System

Berbagai model desain sistem pensiun telah diusulkan dalam berbagai literatur, namun secara umum masih terdapat kekurangan dalam hal guideline praktik terbaik. Pada tahun 2015, CFA Institute bekerja sama dengan Mercer mempublikasikan laporan berjudul Ideal Retirement System yang merupakan  kumpulan prinsip desain pensiun yang dikembangkan berdasarkan rekomendasi dari Future of Finance Advisory Council CFA Institute yang beranggotakan tokoh-tokoh industri finansial dari seluruh dunia. Publikasi ini diharapkan dapat menjadi basis debat dan diskusi awal bagi pengembangan model yang lebih baik dan implementatif.

Sepuluh prinsip Ideal Retirement System dilengkapi dengan question checklist untuk mempermudah diagnosis  dan upaya untuk mengurangi kesenjangan terhadap prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Pemerintah harus menetapkan tujuan yang jelas untuk seluruh sistem pensiun, termasuk peran dari masing-masing pilar pensiun, dan mengatur penyediaan penghasilan minimum untuk pengentasan kemiskinan bagi populasi yang menua.

    1. Pilar mana saja yang sudah ada? Pilar pensiun idealnya terdiri dari :
      • Pilar 0, dana pensiun wajib yang memberikan proteksi minimal
      • Pilar 1, dana pensiun wajib yang dikaitkan dengan pendapatan masa kerja
      • Pilar 2, dana pensiun swasta yang bersifat wajib dan fully funded 
      • Pilar 3, dana pensiun swasta yang bersifat sukarela dan fully funded
      • Pilar 4, dukungan finansial maupun non finansial yang berada di luar sistem pensiun
    2. Bagaimana tingkat partisipasi masyarakat dari masing-masing pilar?
    3. Berapa persen dari populasi yang tercakup dalam masing-masing pilar tersebut? 
    4. Siapa yang harus mengelola masing-masing pilar tersebut?
    5. Dapatkah masing-masing pilar tersebut dikelola dan dioperasikan secara efektif?
    6. Bagaimana tingkat pendanaan dari dana pensiun yang disponsori pemerintah?
    7. Bagaimana komitmen pemerintah terhadap reformasi dan upaya untuk menjalankan sistem yang ada?
    8. Apakah terdapat insentif perpajakan untuk mendorong tabungan pensiun secara sukarela?
    9. Apakah terdapat peluang diversifikasi untuk investasi dana pensiun?
    10. Apakah tabungan pensiun bersifat wajib atau sukarela?

2.       Tingkat pendanaan minimum harus diatur dalam sistem pensiun untuk semua pekerja yang berasal dari kontribusi pengusaha, karyawan, maupun wiraswasta. Ini berarti setiap pekerja akan memiliki akun pensiun untuk masa purna bakti mereka.

    1. Berapa jumlah penduduk yang sudah memiliki akun tabungan pensiun?
    2. Berapa jumlah penduduk yang tercakup dalam dana pensiun dengan program manfaat pasti?
    3. Untuk program iuran pasti, berapa rata-rata jumlah iurannya? Bagaimana breakdownnya berdasarkan metrics sosio ekonomi?
    4. Berapa persen penduduk yang berstatus pegawai versus  pekerja mandiri?
    5. Berapa persen rata-rata iuran dana pensiun dibanding pendapatan ?
    6. Berapa rata-rata jumlah iuran peserta?
    7. Apakah peserta akan menaikkan iuran pensiunnya apabila perusahaan menawarkan kenaikan subsidi iuran pensiun secara proporsional?
    8. Berapa rata-rata pendapatan per pegawai?
    9. Berapa rata-rata iuran per grup usia?
    10. Berapa persen pegawai aktif mencapai iuran yang maksimal?
    11. Berapa level iuran dari kaum disabled/parental/earned income (dibanding level iuran yang regular)?
    12. Apa dampak pengurangan biaya dari waktu ke waktu? 

3.       Terdapat default arrangement yang murah dan menarik, baik sebelum dan sesudah pensiun, bagi individu yang tidak ingin membuat keputusan atas perencanaan pensiunnya.

    1. Apakah tersedia default arrangement bagi individu yang tidak ingin membuat keputusan sendiri?
    2. Apabila tersedia, apa saja tipenya : Iuran? Alokasi asset?
    3. Bagaimana efektivitas biaya dan tingkat partisipasi dari default arrangement tersebut?
    4. Apakah tersedia pilihan investasi yang memadai bagi default arrangement?
    5. Haruskah tetap diwajibkan untuk mengikuti program pensiun yang wajib apabila sudah memiliki program pensiun sukarela (opt in)?
    6. Bagaimana level pengetahuan tentang investasi?
    7. Berapa usia pensiun rata-rata, apakah terlalu muda atau tua?
    8. Apakah default arrangement menggunakan skema fully funded atau pay as you go (tergantung dari iuran dari generasi selanjutnya)?

4.       Biaya administrasi dan investasi secara keseluruhan dalam setiap pengaturan pensiun harus diungkapkan dengan kompetisi untuk mendorong biaya yang wajar.

    1. Bagaimana biaya diungkapkan?
    2. Bagaimana biaya dihitung? Bagaimana informasi dikomunikasikan kepada peserta?
    3. Bagaimana pengaturan biaya individu dan biaya rata-rata?
    4. Berapa jumlah provider, apakah memadai?
    5. Seberapa fleksible peserta memilih manajer?
    6. Apakah terdapat pengetahuan terhadap pengaturan biaya serta dampaknya?
    7. Bagaimana biaya atas trading dan implementasi dari perubahan alokasi asset?

5.       Sistem pensiun harus memiliki beberapa fleksibilitas mengingat setiap individu memiliki kondisi keuangan yang berbeda-beda. Fleksibilitas ini mencakup pengakuan bahwa pensiun dapat terjadi pada berbagai usia dan cara yang berbeda-beda.

    1. Apakah terdapat opsi untuk menunda waktu pensiun?
    2. Apakah terdapat penalti untuk pensiun dini (untuk kelompok usia yang berbeda)?
    3. Apakah batas iuran dihitung per tahun?
    4. Dapatkah peserta mengiur dalam masa disability dan melakukan penarikan jika mengalami disabilitas?
    5. Apakah terdapat peluang untuk bekerja secara remote apabila terdapat perubahan dalam kemampuan untuk melakukan commuting?
    6. Apakah terdapat peluang untuk bekerja paruh waktu setelah memasuki masa pensiun?
    7. Berapa banyak yang bekerja pada masa purna bakti dan berapa rata-rata pendapatannya?

6.       Manfaat yang diberikan dari sistem pensiun harus memiliki fokus pada pendapatan namun tetap memberikan opsi penarikan sebagian dana di awal ketika memasuki masa pensiun untuk keperluan tertentu tanpa membahayakan kesinambungan pendapatan.

    1. Apakah terdapat penalti bagi penarikan lebih awal atas tabungan pensiun?
    2. Apa batasan yang ada untuk melakukan penarikan lebih awal?
    3. Berapa persen dana yang ditarik lebih awal?
    4. Apa batasan bagi dana yang telah ditarik lebih awal?
    5. Berapa yang meminjam dari tabungan?

7.       Iuran pensiun yang telah dibayarkan harus memiliki immediate vesting dan portabilitas pada tingkat tertentu. Prinsip ini memastikan bahwa manfaat pensiun yang diterima peserta mencerminkan keseluruhan masa kerja yang telah dijalani, dan peserta tidak dirugikan karena berganti-ganti pekerjaan.

    1. Berapa rata-rata periode vesting?
    2. Berapa manfaat yang hilang akibat perpindahan pekerjaan sebelum masa vesting?
    3. Apa saja perbedaan-perbedaan dalam rejim vesting yang ada?

8.       Pemerintah harus memberikan insentif perpajakan bagi sistem pensiun sehingga mendorong perilaku masyarakat untuk menyisihkan penghasilan untuk masa pensiun secara sukarela.

    1. Apakah terdapat perlakuan pajak yang fleksibel bagi akun-akun yang berbeda?
    2. Apakah sistemnya didanakan atau pay as you go?
    3. Berapa total biaya pajak bagi dana pensiun?
    4. Berapa persen total sistem mengandalkan iuran dari generasi yang lebih muda?
    5. Berapa persen dari iuran yang tergantung pada perlakuan pajak yang menguntungkan?
    6. Apakah aturan pajak memotivasi tabungan pensiun?

9.       Tata kelola dana pensiun harus independen dari kontrol pemerintah dan pemberi kerja,untuk memastikan kepentingan terbaik para peserta dana pensiun.

    1. Apa standar fidusiari untuk dapat mengelola dana pensiun?
    2. Bagaiman level trust terhadap system pensiun yang dikelola pemerintah?
    3. Apakah pembayaran iuran pensiun telah mempertimbangkan aspek pajak atau manfaat yang akan diterima pekerja?
    4. Apakah terdapat pemisahan kewajiban fidusia yang jelas antara  pengelola dan penerima manfaat dana pensiun? 
    5. Bagaimana dana pensiun berkomunikasi dengan pesertanya, apakah membangun trust dan keyakinan?
    6. Bagaimana level tranparansi dari dana pensiun?
    7. Berapa level garansi dari dana pensiun?
    8. Apakah dana pensiun dipersyaratkan untuk fully funded?

10.   Sistem pensiun harus tunduk pada peraturan yang berlaku antara lain yang mengatur aspek kehati-hatian, persyaratan komunikasi dan perlindungan untuk peserta dana pensiun.

    1. Bagaimana lingkungan pengaturan saat ini?
    2. Siapa yang bertanggung jawab untuk mengatur masing-masing pilar pensiun dan investasi yang dipilih?
    3. Berapa jumlah komplain dan tindakan/hukuman?
    4. Apa yang menjadi sebab tindakan regulatori?

Sebagaimana catatan editor, setiap negara berada pada tahap yang berbeda serta menghadapi sejarah serta dinamika budaya terkait populasi yang berbeda pula. Bagi sebagian pembaca prinsip-prinsip ini sudah terdengar sangat familiar namun sebagian pembaca lainnya dapat menganggap sebagai kontroversial. Laporan OECD (Organization for Economic Co-operation and Development), tahun 2019 juga menyebutkan bahwa "rejim pensiun sangat beragam dan kerap melibatkan program yang berbeda beda". Namun demikian publikasi ini dapat menjadi stimulasi bagi debat yang sehat dan produktif sebagai upaya untuk membawa kita lebih dekat kepada solusi yang memberikan manfaat untuk masyarakat.

Sistem Pensiun di Indonesia

Dalam publikasi 2020 Mercer CFA Institute Global Pension Index tahun ini, Indonesia berada di peringkat keempat di Asia serta peringkat ke-30 dari 39 negara yang disurvei, masih lebih tinggi dibandingkan Jepang, China, India, Mexico, Filipina, Turki, Argentina, dan Thailand. Indonesia berada di kategori C dan sejajar dengan Korea Selatan, Itali dan Spanyol. Kategori C ini berarti telah memiliki sistem pensiun dengan beberapa fitur yang bagus, namun juga memiliki risiko dan/atau kekurangan besar yang harus diatasi.

Di tahun ini Indonesia mendapatkan skor sebesar 51,4 dengan skor tertinggi untuk sub index integritas (68,7), diikuti oleh sub index kecukupan (45,7) dan sub index keberlanjutan (45,6). Skor ini turun dibanding tahun lalu sebesar 52,2 karena turunnya net replacement rate (perbandingan pendapatan bersih saat pensiun dengan pendapatan bersih sebelum pensiun) yang dipublikasikan oleh OECD serta penambahan usia harapan hidup yang meningkatkan longevity risk bagi system pensiun.

Sedangkan pada tahun 2018 skor Indonesia berada di level 53,1, di tahun 2017 di level 49,9 di tahun 2016 di posisi 48,3 dan tahun sebelumnya lagi di level 48,2. Secara historis Indonesia telah berhasil melakukan perubahan besar dalam sistem pensiun lewat regulasi BPJS di 2015, naik ke level C di mana sebelumnya masih berada di level D.

Dalam report tersebut disebutkan bahwa sistem pensiun di Indonesia dapat ditingkatkan antara lain

  • Support pendapatan minimal bagi masyarakat miskin yang sudah tua.
  • Memperluas jangkauan kepesertaan pensiun bagi karyawan dan pekerja mandiri sehingga dapat meningkatkan level tabungan serta asset pensiun.
  • Meningkatkan regulasi bagi sistem pensiun sukarela.
  • Meningkatkan peraturan komunikasi kepada peserta dana pensiun.
  • Memperpanjang usia pensiun ,mengingat terdapat trend kenaikan usia harapan hidup.

Disarikan dari berbagai sumber, beberapa peluang peningkatan juga dapat dilakukan melalui upaya sebagai berikut :

  • Memperbanyak dukungan dan perubahan kebijakan untuk mendorong kontribusi pensiun swasta serta meningkatkan fleksibilitas agar pekerja tidak dirugikan apabila berpindah pekerjaan.
  • Mengurangi kebocoran tabungan pensiun sebelum masa pensiun antara lain dengan membatasi akses untuk mencairkan dana BPJS dan DPLK.
  • Meningkatkan tata kelola dan transparansi untuk meningkatkan kepercayaan peserta dan masyarakat.
  • Melakukan gerakan financial literacy agar masing-masing individu dapat melakukan perencanaan pensiun secara proaktif dan customized, terlebih dengan adanya trend pergeseran dari program pensiun manfaat pasti ke iuran pasti yang tidak dapat memberikan kepastian hasil investasi,
  • Memperluas pasar DPLK dengan mengijinkan asset management dan sekuritas untuk mendirikan DPLK, tidak hanya asuransi jiwa dan bank,
  • Tersedianya produk anuitas yang dapat diandalkan dan kompetitif,
  • Meningkatkan insentif pajak untuk mendorong masyarakat untuk menambah tabungan pensiun.
  • Menyederhanakan proses pendaftaran DPLK melalui digital channels.

Mengutip kalimat William F. Sharpe di atas bahwa masalah pensiun bersifat multi dimensional (dan juga lintas generasi), maka diperlukan komitmen dan kolaborasi dari seluruh pihak terkait agar sistem pensiun dan implementasi dari sistem tersebut dapat kita tingkatkan secara terintegrasi baik dari aspek kecukupan, keberlanjutan maupun integritas, sehingga  demographic bonus yang kita miliki saat ini tidak akan menjadi demographic curse di kemudian hari, di mana rasio jumlah penduduk usia produktif terhadap  penduduk usia non produktif akan semakin kecil, dan para penduduk usia pensiunnya tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk menghidupi diri sendiri dalam trend usia harapan hidup yang meningkat.

Siti Rakhmawati, CFA

Head of Advocacy CFA Society Indonesia

*) Tulisan ini disiapkan untuk kegiatan advokasi CFA Society Indonesia

 Akses publikasi  https://www.cfainstitute.org/en/research/survey-reports/2020-mercer-cfa-institute-global-pension-index

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


GLOBAL INVESTMENT PERFORMANCE STANDARDS:

UPAYA MENINGKATKAN TRUST KEPADA INDUSTRI INVESTASI*)

 

"Kami mengira dia adalah Tuhan. Kami mempercayai semua yang ada di tangannya"

Kalimat ini diucapkan oleh pemenang Hadiah Nobel Perdamaian Elie Wiesel, yang yayasannya, Elie Wiesel Foundation For Humanity, kehilangan uang sebesar USD 15,2 juta pada 2009 setelah turut berinvestasi pada Lembaga keuangan Bernard Madoff .

Skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah ini merugikan ribuan korban, besar dan kecil termasuk individu, badan amal, dana pensiun dan hedge funds. Di antara korbannya ada aktor Kevin Bacon, Kyra Sedgwick dan John Malkovich, dan badan amal yang terkait dengan sutradara Steven Spielberg. Penipuan itu juga mengungkap lubang yang ada di the US Securites and Exchange Commission (SEC) atau Komisi Sekuritas dan Bursa AS karena dianggap lalai dan tidak mampu dalam melakukan pengawasan dan pemeriksaan.

Madoff menuturkan bahwa penipuannya dimulai pada awal 1990-an. Akan tetapi, jaksa dan banyak korban percaya itu dimulai lebih awal. Atas kejahatan rekayasa penipuan dengan skema ponzi (mengambil uang investasi dari seorang investor lalu diberikan ke investor lain) yang diperkirakan mencapai USD 64,8 miliar atau sekitar Rp 946,47 triliun (asumsi kurs Rp 14.606 per dolar AS) ini, Madoff dihukum 150 tahun penjara pada Juni 2009.

Para investor terpesona oleh klaim keuntungan tahunan dua digit yang mantap yang tampak dihasilkan Madoff. Skandal Madoff ini merupakan kasus ektrem yang semakin membangkitkan kesadaran perlunya standar perhitungan dan presentasi kinerja investasi yang tidak menyesatkan sehingga trust dari investor tidak tercederai.

Analogi atas pentingnya standar pengukuran dan penyajian bagi pembaca dan pengambil keputusan dapat kita lihat pada standar akuntansi untuk laporan keuangan perusahaan, yang klaim kesesuaian atas standar tersebut perlu diverifikasi oleh pihak independen yaitu Kantor Akuntan Publik. Tentunya kita masih ingat akan kasus Enron pada tahun 2001, yang merupakan skandal akuntansi terbesar dimana Kantor Akuntan Publik besar Arthur Andersen harus dibubarkan dan dibutuhkan upaya dan waktu yang lama untuk mengembalikan trust investor.


Global Investment Performance Standard (GIPS)

Dengan pertimbangan bahwa industri investasi sangat bergantung pada kepercayaan investor, pada tanggal 4 Juni 2021 yang lalu CFA (Chartered Financial Analyst) Society Indonesia menyelenggarakan webinar "Introduction to GIPS" dengan speaker dari Professional Conduct Enforcement & Global Industry Standards, CFA Institute.

Acara yang diikuti oleh peserta dari industri aset baik Dana Pensiun, Asuransi, Manajer Investasi, Regulator, serta stakeholders dan profesi pendukungnya ini bertujuan untuk memperkenalkan GIPS versi termutakhir yaitu edisi tahun 2020.

GIPS merupakan standar global dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi historis kepada klien berdasarkan prinsip-prinsip fair representation and full disclosure.

Tujuan dari standar GIPS antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Mempromosikan kepentingan dan meningkatkan kepercayaan investor.
  2. Memastikan akurasi dan konsistensi data.
  3. Memperoleh standar tunggal yang diterima di seluruh dunia dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi.
  4. Mempromosikan persaingan yang fair di antara perusahaan investasi.
  5. Mempromosikan self-regulation industri investasi dalam skala global.

Implementasi standar GIPS memungkinkan dicapainya hal-hal sebagai berikut :

  1. Bagi Manajer Investasi : dapat berkompetisi secara setara di seluruh market di seluruh dunia.
  2. Bagi Investor : mendapat informasi yang tidak menyesatkan (bad apples problem), dan dapat membandingkan kinerja historis dari para Manajer Investasi fair (apple to apple problem), sehingga memperoleh keyakinan dan kepercayaan dan dapat mengambil keputusan pemilihan Manajer Investasi dan produknya secara tepat.
  3. Bagi Pemilik Aset (dana pensiun, endowment fund, yayasan, sovereign wealth funds, provident funds, insurers & reinsurers, family offices, fiduciaries) : dapat menyajikan kinerja investasi secara fair dengan pengungkapan yang memadai, sehingga stakeholdersnya dapat mengambil keputusan yang tepat.

Inisiatif mengenai standarisasi kinerja investasi ini berawal pada tahun 1985 yaitu dengan diterbitkannya arahan bagi UCITS (Undertakings for the Collective Investment in Transferable Securities), sebuah kerangka pengaturan yang memungkinkan penjualan reksa dana antar negara di Eropa. Selanjutnya, Inggris dan Amerika serta Canada juga memiliki inisiatif serupa.

Sebagai organisasi profesi investasi global dengan misi "to lead the investment profession globally by promoting the highest standards of ethics, education, and professional excellence for the ultimate benefit of society"  pada tahun 1995, CFA Institute yang dulunya dikenal dengan nama Association for Investment Management and Research (AIMR), mensponsori dan mendanai Komite GIPS untuk mengembangkan standar global dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi berdasarkan berdasarkan Standar Penyajian Kinerja AIMR eksisting (AIMR-PPS®/ Performance Presentation Standards).

Pada tahun 1999, standar GIPS untuk pertama kalinya dipublikasikan. Komite GIPS digantikan oleh Investment Performance Council (IPC), yang berperan sebagai komite global yang bertanggung jawab atas standar, yang terdiri dari 36 anggota dari dari 15 negara. Anggotanya memiliki pengalaman investasi yang sangat beragam dan mendalam yang berasal dari beragam ukuran perusahaan dan memiliki spesialisasi baik di reksadana, private wealth management, asuransi,dana pensiun, private equity and venture capital, real estate, konsultan investasi, serta verifikator pengukuran kinerja.

Sejak saat itu IPC mempromosikan pendekatan CGV (Country Version of GIPS), di mana negara yang telah memiliki standar kinerja sendiri dapat mengadopsi GIPS sebagai rujukan utama yang melengkapi aturan dan praktek lokal.

Pada tahun 2006 seluruh CVG dihapuskan dan digabung menjadi standard GIPS (edisi tahun 2005). Dengan kolaborasi dari volunteer komunitas-komunitas investasi serta dibantu oleh sponsor-sponsor lokal untuk mempromosikan standar tersebut (di Indonesia antara lain terdiri dari CFA Society Indonesia dan APRDI / Asosiasi Pelaku Reksa Dana & Investasi Indonesia), standar tersebut terus disempurnakan dan pada tahun 2011 dipublikasikanlah standar GIPS edisi tahun 2010.

Saat ini telah terdapat terdapat sekitar 1.806 perusahaan, dengan 24 dari 25 top Manajer Investasi di 48 negara telah mengklaim kesesuaian terhadap standard GIPS.

 

Standar GIPS Edisi Tahun 2020

Yang membedakan standar GIPS edisi tahun 2020 dari versi sebelumnya adalah adanya chapter "Pemilik Aset" / Asset Owner selain chapter "Perusahaan" / Firm dan chapter "Lembaga Verifikator" / Verifiers. Hal ini juga mengakomodasi kebutuhan untuk memasukkan instrument alternatif seperti property dan penyertaan saham yang biasanya juga terdapat dalam portofolio Pemilik Aset, selain instrumen pasar uang dan pasar modal.

Dalam standar GIPS, yang dimaksud dengan Manajer Investasi adalah sebagai berikut:

  1. Merupakan organisasi yang mengelola aset untuk klien dan bersaing sebagai bisnis
  2. Mengacu pada organisasi, bukan individu
  3. "Perusahaan" merupakan  sebuah entitas yang didefinisikan bagi kesesuaian terhadap standar GIPS
  4. Suatu Manajer Investasi dapat memiliki beberapa "Perusahaan".
  5. Terdiri dari manajer investasi dapat mengelola aset bagi klien individu, pooled fund, ataupun keduanya.

Sedangkan yang dimaksud dengan Pemilik Aset adalah sebagai berikut :

  1. Suatu entitas yang mengelola investasi, baik secara in house / swa kelola maupun melalui penggunaan jasa Manajer Investasi eksternal, untuk kepentingan peserta, beneficiaries, maupun organisasi itu sendiri.
  2. Mengacu pada organisasi, bukan individu
  3. Pada umumnya bertanggung jawab kepada badan pengawas yang bertugas menetapkan kebijakan investasi dan memonitor kinerja investasi
  4. Terdiri dari dana pensiun, endowment fund, yayasan, sovereign wealth funds, provident funds, insurers & reinsurers, family offices, fiduciaries.

Berikut ini adalah manfaat bagi Pemilik Aset untuk mempersyaratkan standar GIPS bagi Manajer Investasi :

1.       Meningkatkan kemampuan untuk membandingkan kinerja antar Manajer Investasi dan strategi berdasarkan informasi internal dan eksternal yang konsisten dan komparabel.

Tanpa persyaratan yang terstandarisasi dalam perhitungan dan penyajian kinerja investasi, maka Pemilik Aset akan sulit untuk membandingkan laporan performansi dari Manajer Investasi karena tidak terdapat level playing field (apple to apple problem), dan Pemilik Aset dan badan pengawasnya sulit untuk membuat keputusan yang baik untuk menjalankan tugasnya karena data kinerja investasi yang digunakan kurang tepat (bad apples problem).

2.       Meningkatkan transparansi dari penyajian kinerja.

3.       Konsistensi dalam perhitungan dan penyajian hasil kinerja investasi, seperti misalnya frekuensi dari valuasi aset, perlakuan atas cashflow masuk dan keluar, serta akrualisasi.

4.       Mengungkapkan secara lengkap seluruh detil yang penting atas data kinerja yang ditampilkan antara lain biaya, kriteria konstruksi composite, dispersi, risiko, perubahan yang material, dan tolok ukur penilaian kinerja.

5.       Memperkuat proses dan kontrol internal pada perusahaan Manajer Investasi

6.       Mendorong perkembangan industry ke standar praktik terbaik yang etis

 

Berikut ini adalah bagan yang mengilustrasikan bagaimana Pemilik Aset dapat menggunakan standar GIPS

Bagan GIPS.png

Sumber : CFA Institute

Tahap pertama adalah dalam proses evaluasi dan seleksi di mana Pemilik Aset dan konsultan investasinya mempertimbangkan kinerja historis dalam mengevaluasi dan menyeleksi manajer investasi eksternal. Tahap selanjutnya adalah proses pelaporan di mana Pemilik Aset melaporkan kinerja historisnya ke stakeholdersnya, yang terdiri dari kinerja Manajer Investasi eksternal maupun internal.     

Standar GIPS untuk Pemilik Aset terdiri dari enam bagian sebagai berikut :

  1. Fundamentals of Compliance
  2. Input Data and Calculation Methodology
  3. Total Fund and Composite Maintenance
  4. Total Fund and Composite Time-Weighted Return Report
  5. Additional Composite Money-Weighted Return Report
  6. GIPS Advertising Guidelines

 

Sebuah Awal

Untuk mencapai kesesuaian terhadap standar GIPS ini –dan terlebih yang telah diverifikasi oleh lembaga independent-- tidaklah mudah. Diperlukan sosialisasi, kesadaran, komitmen, kompetensi, proses dan sistem yang berkesinambungan dan melibatkan banyak pihak baik regulator, stakeholders, Manajer Investasi dan Pemilik Aset.

Namun sebagai langkah awal, beberapa hal mendasar dari standar GIPS sebagai berikut dapat kita jadikan acuan:

  • Kinerja investasi diukur sebagai total return yang terdiri dari realized return dan unrealized return. Karena kinerja investasi yang hanya terdiri dari realized return saja belumlah komprehensif dan bisa saja menyisakan "sampah" khususnya apabila terdapat kendala untuk melakukan cut loss atas investasi yang prospeknya sudah tidak bagus lagi. Untuk Pemilik Aset, idealnya formula yang digunakan adalah money weighted rate of return (karena memiliki diskresi untuk menentukan timing investasi/divestasi), sedangkan untuk Manajer Investasi, formula yang lebih tepat adalah time weighted rate of return (karena tidak memiliki diskresi untuk menentukan timing investasi dan divestasi).
  • Valuasi aset menggunakan akuntansi pada tanggal transaksi (bukan tanggal settlement), valuasi aset harus diperoleh dari pihak ketiga yang independen dan qualified, return yang kurang dari setahun tidak boleh disetahunkan
  • Penyajian kinerja investasi ditayangkan dalam bentuk return yang gross of fee, net of external cost only, serta net of fee.
  • Presentasi risiko merupakan parameter kinerja yang sangat penting mengingat adanya pilihan "high risk, high expected return". Tanpa presentasi risiko, maka pembaca laporan tidak mendapatkan informasi yang menyeluruh sehingga bisa bersifat menyesatkan. Dalam dunia investasi dikenal juga parameter risk adjusted return atau berapa return yang dihasilkan per satu unit risiko. Parameter risiko yang biasa dipakai adalah nilai simpangan baku (standard deviation) dari return. Di samping risiko volatilitas, terdapat pula risiko lain di antaranya risiko suku bunga, risiko harga saham, risiko kurs, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko inflasi dan risiko reinvestasi.

 

Dengan upaya ini, baik bad apples problems maupun apple to apple problems sebagaimana digambarkan di atas dapat diminimalkan dan keyakinan serta kepercayaan investor dan stakeholders terhadap industri investasi dapat ditingkatkan untuk kemaslahatan bersama.

 

Siti Rakhmawati, CFA

Head of Advocacy CFA Society Indonesia

 

*) Tulisan ini disiapkan untuk kegiatan advokasi CFA Society Indonesia, disarikan dari berbagai sumber.

Akses terhadap materi standar GIPS  : http://www.gipsstandards.org/   

Youtube: https://www.youtube.com/watch?v=gj2b88dzPwA&t=396s

Posted: 16 June 2021